Ilustrasi/mili.id
Surabaya - Gelombang protes dari masyarakat hingga civitas akademika di Indonesia, dinilai bisa membuat Prabowo-Gibran berat untuk menang satu putaran.
Hal itu disampaikan Pengamat Politik, Suparman Marzuki. Katanya, saat ini ada keresahan luar biasa yang dialami Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).
Baca juga: AHY Hormati Sikap Politik PDIP, Tekankan Pentingnya Kritik Konstruktif dalam Demokrasi
"Presiden Jokowi dengan pasukannya dan calonnya memang sedang dilanda keresahan besar, akibat pernyataannya sendiri," terang Suparman, Sabtu (3/2/2024).
Menurutnya, keresahan yang sedang dialami Jokowi adalah soal isu Pilpres 2024 selesai satu putaran. Sementara calonnya diketahui ada tiga pasangan calon (paslon) yang bersaing saat ini.
"Yang kedua khawatir dua putaran. Yang ketiga jangan-jangan tak masuk putaran kedua. Atau yang paling moderat angkanya gak signifikan," jelas mantan Ketua Komisi Yudisial itu.
Baca juga: Jatim Raih Penghargaan Nasional Penurunan Pengangguran Terbaik, Dapat Insentif Rp3 Miliar
Suparman menyebut bahwa Prabowo-Gibran diketahui paling jor-joran soal dana kampanye dibanding paslon lainnya.
"Sudah keluarkan duit triliunan, sudah turun langsung sang presiden, justru lebih aktif Jokowi ketimbang Prabowo, ketimbang Gibran," tegas Pengamat Politik dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu.
Namun, lanjut Suparman, turunnya Jokowi dinilai belum tentu berdampak positif. Karena justru menimbulkan reaksi penolakan dari masyarakat.
Baca juga: Amien Rais Kritik Kondisi Politik dan Ekonomi Indonesia, Soroti Oligarki hingga Ketimpangan Sosial
"Hasilnya gak signifikan. Itu menggerogoti habis kepercayaan diri sekaligus citra. Sudah keluarkan sumber daya segitu besar, hasilnya segitu doang," tambah dia.
Sebagai informasi, lembaga pendidikan perguruan tinggi dari berbagai wilayah di Indonesia serentak mengeluarkan protes saat ini. Protes tersebut berisi tentang ikut campurnya Jokowi dalam Pilpres 2024.
Editor : Narendra Bakrie
