Sekretaris DPC PKB Kabupaten Bondowoso, H. Tohari (Foto: Deni AW/mili.id)
Bondowoso - Haji Tohari menjadi salah satu sosok yang didorong oleh Ketua DPC PKB Kabupaten Bondowoso, H. Ahmad Dhafir untuk mencalonkan diri sebagai bupati di Pilkada 2024.
PKB leluasa bicara perihal Pilkada Bondowoso yang bakal dihelat pada November 2024 mendatang. Sebab di kabuaten ini, PKB superior dengan proyeksi perolehan 35 persen kursi DPRD periode 2024-2029.
Baca juga: Jumat Berkah Berbagi Polres Bondowoso, 500 Nasi Kotak Dibagikan kepada Jamaah Usai Salat Jumat
Raihan 16 dari 45 kursi di DPRD Kabupaten Bondowoso sudah cukup bagi PKB mengusung cabup-cawabup sendiri, meski tanpa koalisi dengan parpol lain.
Sebab aturannya, cabup-cawabup bisa diusung oleh parpol atau gabungan parpol dengan perolehan minimal 20 persen dari total kursi di DPRD.
Artinya, cabup-cawabup di Bondowoso bisa diusung oleh parpol atau gabungan parpol yang memiliki 9 kursi.
PKB jadi satu-satunya parpol di Bondowoso yang bisa mengusung sendiri cabup-cawabup, karena meraup lebih dari 9 kursi. Sedangkan parpol lain masih perlu berkoalisi, karena tidak ada yang menyentuh 9 kursi.
Di antaranya Partai Golkar 7 kursi, PPP 7 kursi, PDIP 5 kursi, Gerindra 4 kursi, Partai Demokrat 3 kursi, PKS 2 kursi dan Partai Gelora 1 kursi.
Ketua DPC PKB Kabupaten Bondowoso, H. Ahmad Dhafir pernah menyampaikan pernyataan ke media bahwa pihaknya mendorong kader terbaik di partainya untuk maju sebagai cabup di Pilkada 2024.
"Biarkan saya jadi akar saja. Tidak ada rotan, akar pun jadi," ungkap Dhafir beberapa waktu lalu.
Ketua DPRD Bondowoso 4 periode ini membuka ruang seluas-luasnya kepada kader PKB, termasuk Tohari yang kini menjabat sebagai Sekretaris PKB Bondowoso.
"Kalau Pak Haji Tohari mau, monggo. Saya akan dorong," tegas politisi asal Desa Tegalmijin, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso ini.
Haji Tohari kemudian menanggapi pernyataan dukungan kepada dirinya tersebut.
"Terima kasih pak ketua yang mendorong saya menjadi salah satu calon bupati," ungkap Tohari kepada wartawan, Selasa (12/3/2024) malam.
Namun ia lantas melakukan hal yang sama kepada ketua DPC PKB Kabupaten Bondowoso itu.
"Dan begitu sebaliknya, saya juga mendorong pak ketua untuk menjadi calon bupati," ucap Tohari.
Dia mengakui bahwa di tubuh PKB terdapat lebih dari satu kekuatan besar.
"Kalau ini dianggap sebagai sebuah kekuatan, maka ada dua kekuatan yang nanti akan bersatu," terang Tohari.
Baca juga: Hari Bhayangkara ke-80, Kapolres Bondowoso Tebar Kepedulian untuk Purnawira dan Warakawuri
Ia menegaskan bahwa dua kekuatan besar itu tidak untuk dibenturkan, melainkan dipersatukan agar PKB semakin kokoh.
"Bukan menjadi dua kekuatan yang nanti akan dipecah menjadi setengah-setengah. Jadi kalau ini dianggap ada dua kekuatan, maka menjadi dua kekuatan yang kita satukan," tegas santri alumnus Ponpes Nurul Jadid, Probolinggo ini.
Lantas siapa yang bakal maju sebagai calon bupati Kabupaten Bondowoso periode 2024-2029 dari PKB?
"Kalau saya menginginkan Pak Dhafir. Kemudian Pak dhafir menginginkan saya, umpamanya begitu," ulasnya.
Menurut Tohari, saat ini hanya tergantung dua pihak yang ia sebut sangat berpengaruh dalam pencalonan Bupati Bondowoso dari PKB.
"Tergantung sekarang siapa yang diinginkan oleh NU. Siapa yang diperintah oleh pesantren. Itulah yang nanti kita amankan bersama," paparnya.
Ia kemudian mencontohkan, apabila nantinya yang menerima mandat untuk maju Pilkada adalah Ahmad Dhafir, maka pihaknya wajib taat perintah.
"Jadi kalau pak ketua, Pak Dhafir yang harus dicalonkan, maka tentunya saya dan seluruh kader PKB punya kewajiban menjalankan apa yang diperintahkan oleh NU dan pesantren," tegas Tohari.
Dalam hal pencalonan, muncul isu bahwa 'kiblat' penentu PKB salah satunya adalah Ponpes Nurul Jadid. Namun hal ini ditepis oleh Tohari.
"Tidak hanya Nurul Jadid. Semua pesantren menjadi kiblat kita. NU jadi kiblat kita dalam pencalonan," jawabnya.
Kendati bergerak sesuai perintah NU dan pondok pesantren, tapi PKB berjanji tidak hanya akan mengakomodir kepentingan NU saja.
"Apa yang nanti harus dilakukan oleh bupati dari PKB, maka semua harus terakomodir. Tidak hanya akomodir NU dan pesantren," terangnya.
Sebab tidak semua warga Kabupaten Bondowoso NU dan santri, bahkan tidak semua muslim.
"Itu menjadi tugas siapapun nanti yang menjadi bupati dari PKB," tutur pria yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi I DPRD Bondowoso tersebut.
Sementara tentang pencalonan bupati dari PKB, Tohari mengaku masih menunggu titah lebih lanjut.
"Tentang pencalonan, ya udah kita tunggu dari NU dan pesantren," tandas Tohari.
Editor : Narendra Bakrie
