Jadi Lokasi Syuting Film Anaconda 2

Jadi Lokasi Syuting Film Anaconda 2 © mili.id

Jeki duduk di depan untuk mengendalikan laju perahu di sungai yang melintas di tengah hutan (Foto: Gandhi Wasono for mili.id)

Kalteng - Sebagian besar masyarakat Desa Karuing bekerja mencari ikan di sungai.

Lainnya bekerja di tambang emas ilegal yang banyak terdapat di sepanjang sungai.

Baca juga: Pemkot Palangka Raya Percepat Reforma Agraria, Warga Berpeluang Dapat Kepastian Hukum Tanah

Soal ikan, Sungai Katingan merupakan habitat ikan gabus, patin, udang juga beberapa jenis ikan tawar lainnya.

Hasil tangkapan selain untuk dikonsumsi sendiri, juga dijual pada pengepul yang kemudian dikirim ke Kasongan atau Palangkaraya.

Saat-saat tertentu, kadang ikan di sungai melimpah, sehingga sampai surplus. Akibatnya harga di pasaran merosot.

Bagi orang penyuka ikan seperti saya, Karuing adalah surga. Saban hari menu makanan yang disajikan oleh Mama Leha selalu ikan dengan berbagai macam olahan.

Dari Palangkaraya untuk menuju Karuing dibutuhkan waktu sekitar 3 sampai 4 jam. Kondisi jalan cukup bagus, hanya kadang aspalnya naik turun karakter dari tanah gambut yang mudah amblas.

Rutenya, Palangkaraya menuju Kereng Pakahi dermaga perahu terlebih dahulu sejauh sekitar 150 kilometer bisa dengan mobil atau motor. Selanjutnya dari Pakahi menuju Karuing dilanjut dengan naik ces sekitar 30 menit.

Kereng Pakahi adalah dermaga perahu yang setiap saat digunakan oleh masyarakat yang dari atau menuju desa yang berada di tepian Sungai Katingan.

Pakahi sendiri setiap hari Minggu menjadi hari pasaran, di mana masyarakat dari berbagai desa di sepanjang sungai datang berbelanja barang kebutuhan.

Karena Karuing ada sawah, untuk pasokan beras dan beberapa jenis sayur dan buah diperoleh dari luar daerah.

Namun, meski berdampingan dengan hutan lebat serta berada di tepian sungai, tapi suhu di Karuing cukup panas ini diakibatkan masuk garis equator.

Selain suasana desa yang damai serta aktivitas sungai yang memberi nuansa keindahan berbeda, Karuing memiliki hutan yang eksositis.

Hutan yang letaknya berada di punggung desa, tepat bersebelahan dengan hutan wilayah Taman Nasional Sebangau.

Untuk masuk ke hutan tersebut, harus melewati sungai yang melintas di tengah-tengahnya. Tapi pada titik-titik tertentu bisa dengan trekking atau jalan kaki menembus hutan lebat.

Pada suatu siang menjelang sore, saya bersama Nurdin Razak diantar Mas Jeki, juru mudi ces sekaligus ketua penggiat wisata desa berkesempatan ke sana.

Mas Jeki mengantar masuk hutan melalui sungai untuk maping atau mencari tempat yang bisa dijadikan sebagai lokasi trekking wisatawan atau para photographer alam liar memotret satwa.

Baca juga: Forum Komunikasi Media 2025: BI Kalteng Dorong Pemanfaatan AI Dalam Jurnalisme

Begitu ces dari arah Sungai Katingan mulai memasuki anak sungai, sekitar 500 meter kemudian mesin ces dimatikan, kemudian perahu dibiarkan melaju perlahan mengikuti aliran air sungai yang bergerak lambat.

Untuk mengarahkan perahu, Jeki pindah ke ujung perahu dan mengendalikan dengan bilah kayuh.

Makin masuk ke ke dalam suasana teduh, dan hening makin terasa. Yang terdengar hanya gemericik lembut air dari lambung perahu, ditambah suara belalang serta celoteh berbagai jenis burung yang hinggap di dahan-dahan pohon.

Di kanan kiri tumbuh pepohonan besar dan kecil dengan daun lebat.

Makin ke dalam, air sungai yang semula berwarna coklat keruh berganti berwarna coklat kehitaman jernih karena tanin atau larutnya akar-akaran dan gambut. Lebar sungai pun juga tidak merata. Kadang melebar, tapi kadang menyempit hanya selebar badan perahu saja.

Di kanan kiri sungai dipenuhi oleh tanaman air yang lalu lalang kadang menghalangi jalannya perahu.

Karena itu, ketika melintas harus waspada. Bukan akar yang lunak saja, tapi kadang batang rotan berduri tajam menjulur menghalangi. Dan jika tersenggol, bisa melukai kulit.

Karena itu, sambil perahu melaju, Mas Jeki di depan dengan parang terhunus menebas jika ada kayu atau batang tanaman yang merintangi. Dan Mas Jeki langsung menghentikan perahunya jika ada obyek foto bagus, entah burung atau satwa lainnya.

Baca juga: Bareskrim Usut Tambang Zirkon Diduga Ilegal di Kalteng

Sambil menikmati suasana hutan yang begitu eksotis, saya langsung teringat dengan adegan film petualangan Anaconda 2 yang berjudul The Hunt of Blood Orchid yang dirilis Tahun 2004.

Karena film besutan sutradara Dwilight H. Little kebetulan syutingnya mengambil tempat di Taman Nasional Sebangau, yang tidak jauh dari saya berada.

Film petualangan yang dibalut dengan kisah horor yang dibintangi Johnny Mesner, KaDdee Strickland dan Eugene Byrd, berkisah tentang sekelompok ilmuwan yang menjelajah hutan Kalimantan untuk mencari anggrek darah untuk kepentingan riset ilmu pengetahuan.

Namun, saat melakukan pencarian bunga anggrek misterius, para kelompok ilmuwan yang melintas sungai tersebut bertemu dengan anaconda atau seekor ular raksasa yang sangat ganas.

Meski film tersebut adalah fiksi, karena di Kalimantan tidak ada ular anaconda, tetapi tetap saja menarik dan mendebarkan.

 

Penulis: Gandhi Wasono

 

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait