Oleh : Erwin Muhammad -
Profesi wartawan sering kali berada di persimpangan antara idealisme dan berbagai godaan duniawi. Setiap hari mereka berhadapan dengan informasi bernilai tinggi, tokoh-tokoh berpengaruh, serta berbagai peluang yang terkadang menggiurkan. Dalam situasi seperti itu, satu nilai yang menjadi benteng penting adalah qanaah, yakni merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.
Baca juga: Saat Mimpi Garuda Diuji, Bukan Takluk
Qanaah bukan berarti pasrah tanpa usaha. Qanaah adalah sikap hati yang tetap tenang setelah melakukan ikhtiar terbaik. Seorang wartawan tetap bekerja keras mencari berita, mengejar narasumber, dan menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas. Namun, ia tidak membiarkan dirinya diperbudak oleh ambisi yang berlebihan.
Pelajaran ini sejalan dengan nasihat para ulama tasawuf, termasuk yang diajarkan oleh Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandari. Seseorang yang hatinya bersandar kepada Allah tidak akan mudah gelisah oleh urusan rezeki. Ketika memperoleh kelapangan, ia bersyukur. Ketika mengalami kesempitan, ia tetap tenang karena yakin bahwa Allah telah mengatur bagian masing-masing hamba-Nya.
Dalam dunia jurnalistik, qanaah menjadi pagar yang menjaga integritas. Wartawan yang qanaah tidak akan mudah tergoda untuk menggadaikan independensinya demi keuntungan sesaat. Ia tidak memaksakan diri mencari keuntungan dari setiap akses yang dimiliki. Ia memahami bahwa kehormatan profesi lebih berharga daripada keuntungan yang hanya bertahan sesaat.
Tidak sedikit wartawan yang merasa tertinggal ketika melihat rekan lain memperoleh posisi lebih tinggi, akses lebih luas, atau popularitas yang lebih besar. Di era media digital, ukuran kesuksesan sering kali dihubungkan dengan jumlah pembaca, tayangan, atau viralnya sebuah berita.
Namun qanaah mengajarkan cara pandang yang berbeda.
Seorang wartawan yang qanaah tidak sibuk menghitung pencapaian orang lain. Ia fokus memperbaiki kualitas karya dan amanah yang berada di tangannya. Ia yakin bahwa setiap orang memiliki rezeki, jalan hidup, dan waktu keberhasilan yang berbeda-beda.
Sikap inilah yang membuat seorang wartawan mampu bekerja dengan hati yang lebih ringan. Ia tidak mudah iri ketika orang lain mendapatkan kesempatan yang belum ia peroleh. Ia juga tidak larut dalam kekecewaan ketika hasil kerja kerasnya belum mendapatkan apresiasi yang diharapkan.
Qanaah pada akhirnya bukan hanya soal rezeki materi, tetapi juga soal ketenangan jiwa. Wartawan yang qanaah akan lebih mudah menjaga objektivitas, karena ia tidak menulis demi kepentingan pribadi. Ia lebih berani membela kebenaran, karena tidak takut kehilangan sesuatu yang memang bukan haknya.
Di tengah persaingan media yang semakin ketat, nilai qanaah justru menjadi kekuatan yang sering terlupakan. Ketika banyak orang berlomba mendapatkan lebih banyak, qanaah mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari banyaknya yang dimiliki, melainkan dari kemampuan mensyukuri apa yang telah diberikan.
Bagi seorang wartawan, qanaah bukan alasan untuk berhenti berkembang. Sebaliknya, qanaah adalah fondasi agar tetap profesional tanpa kehilangan ketenangan batin. Ia terus berkarya, terus belajar, dan terus berjuang menghadirkan informasi yang benar, sambil meyakini bahwa apa yang telah Allah tetapkan untuk dirinya tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain.
Di situlah qanaah menjadi sahabat terbaik seorang wartawan: menjaga idealisme tetap hidup, memelihara integritas tetap tegak, dan membuat langkah jurnalistik tetap bernilai ibadah di hadapan Allah.
Editor : Muhammad
