Cari Jamur di Gundukan Limbah Pabrik Gula, Remaja Jember Tersambar Petir

Cari Jamur di Gundukan Limbah Pabrik Gula, Remaja Jember Tersambar Petir © mili.id

 Korban dievakuasi dari lokasi tersambar petir. (Atta Hatta/Mili.id)

Jember, mili.id - Seorang remaja laki-laki berinisial MK (14), asal Desa Semboro, Kecamatan Semboro, Jember meninggal dunia akibat tersambar petir di areal pembuangan limbah Pabrik Gula (PG) Semboro wilayah setempat, Rabu (19/2/2025).

"Korban saat itu seorang diri ke lokasi kejadian, bermaksud untuk mencari Jamur Blotong. Awal ia bermaksud mengajak dua orang temannya yang lain inisial F dan A. Tapi karena oleh salah satu orang tua temannya melarang. Korban berangkat sendiri ke lokasi kejadian," kata Kapolsek Semboro Iptu Andrias Suryo Rubedo saat dikonfirmasi sejumlah wartawan.

Baca juga: BNI Sudah Laporkan Kasus KUR Jember 441 M Sejak 2024

Saat kejadian tersebut, lanjutnya, di wilayah setempat kondisi hujan dan beberapa kali terjadi sambaran petir.

"Jarak lokasi kejadian dari rumah korban kurang lebih 100 meteran. Korban saat itu naik ke atas gundukan limbah pabrik setinggi kurang lebih 10 meter. Dimungkinkan korban tersambar petir itu, Saat kejadian juga tidak ada orang lain, hanya korban sendirian," jelasnya.

Kata Mantan Kanit Reskrim Polsek Patrang ini, korban saat itu masuk ke areal lokasi pembuangan Pabrik PG Semboro tanpa izin. Diketahui korban sudah dalam kondisi tergeletak oleh seorang petugas keamanan pabrik.

"Kemudian saksi ini menghubungi polisi dan bersama warga menuju lokasi korban. Saat itu korban sudah tergeletak, dalam posisi tertelungkup, korban mengalami luka bakar di bagian wajah. Kemudian kaki sebelah kanan dan kiri. Di tangannya juga masih memegang jamur blotong," ujarnya.

"Diduga korban habis mengambil jamur tersebut, dan mungkin bermaksud mau turun dari gundukan itu. Tapi tersambar petir," sambungnya menjelaskan.

Dari kejadian ini, lebih lanjut kata Andrias, pihak keluarga menerimanya sebagai sebuah musibah.

Baca juga: Kejati Jatim Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi KUR BNI Jember, Kerugian Negara Capai Rp41,4 Miliar

"Tadi hanya dilakukan visum luar, kemudian jenazah korban langsung dibawa keluarganya ke rumah duka untuk dimakamkan dengan layak," ucapnya.

Sementara itu, menurut Ketua RW 017 Sudarmanto. Korban sehari-hari diketahui hanya bersama dengan neneknya. Selain itu, korban juga diketahui putus sekolah setelah lulus SD tahun 2024 lalu.

"Korban itu kasihan, dia korban dari perceraian orang tuanya. Bapak dan ibunya bercerai, masing-masing pergi merantau. Korban hanya hidup dengan neneknya. Itupun bukan nenek kandung. Nenek ipar dari keluarganya," ujar Sudarmanto saat dikonfirmasi terpisah.

Untuk hidup sehari-hari, kata Sudarmanto, remaja umur 14 tahun itu memang mendapat uang kiriman dari orang tuanya.

Baca juga: AstonRun 2026 Perkuat Jember Sebagai Destinasi Sport Tourism

"Tapi mungkin kurang cukup, jadi dia memang cari makan sendiri. Itupun juga untuk membantu neneknya," ujarnya.

"Untuk sekolah dia tidak lanjut, karena teman-temannya diterima di sekolah negeri. Dia setahu kami di MTS, tapi tidak lanjut atau putus sekolah," sambungnya.

Terkait kejadian tersambar petir, kata Sudarmanto, ia pun membenarkan kejadian tersebut.

"Karena saat itu memang sudah agak reda tinggal hujan gerimis saja. Tapi saat itu, juga terdengar bledek (petir, red) cukup keras beberapa kali. Kemudian diketahui orang yang bekerja sebagai mandor, diteruskan informasinya ke petugas keamanan pabrik itu, bilang ada orang tergeletak. Ternyata ya korban itu yang tersambar petir," tandasnya.

Editor : Aris S



Berita Terkait