Tohari, salah satu keluarga santri yang menunggu identifikasi (Foto: Dok. mili.id)
Surabaya, mili.id - Keluarga para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran Sidoarjo yang ambruk, dengan cemas menanti proses identifikasi.
Duka keluarga para santri terkumpul di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Jatim di Surabaya. Di sinilah proses identifikasi dilakukan Tim DVI (Disaster Victim Identification).
Baca juga: Tangan Palsu untuk Nur Ahmad, Santri Surabaya Korban Ambruknya Ponpes Al-Khoziny
Salah satu keluarga yang menanti adalah Tohari. Dengan tatapan kosong, ia terus memanjatkan doa untuk dua adik tercintanya, Zaki dan Albi, yang baru tiga bulan menimba ilmu di pesantren tersebut.
Suasana cemas menyelimuti setiap sudut rumah sakit. Keluarga korban dengan setia menanti kabar dari Tim DVI yang terus bekerja.

Tohari, warga asal Sampang, Madura, tampak berusaha tegar meski air matanya tak terbendung. Bersama anggota keluarga lainnya, ia tak henti-hentinya berharap adanya keajaiban.
Baca juga: Tim DVI Polda Jatim Tuntaskan Identifikasi 63 Jenazah Korban Tragedi Ponpes Ambruk
"Kami hanya ingin kepastian. Kami percaya tim DVI melakukan yang terbaik," ujar Tohari dengan suara bergetar.
Keluarga korban bahkan memilih untuk menginap di rumah sakit agar selalu dekat dengan perkembangan informasi. Mereka telah menjalani proses pengambilan sampel DNA, berharap langkah ini dapat mempercepat proses identifikasi.
"Kami sudah memberikan semua yang dibutuhkan. Sekarang, hanya doa yang bisa kami panjatkan," tutur Tohari, Sabtu (4/10/2025).
Baca juga: Update Identifikasi Jenazah Korban Ponpes Ambruk: 58 Diketahui, Kini Tinggal Lima

Proses identifikasi melibatkan berbagai metode ilmiah, termasuk pencocokan DNA serta data ante mortem dan post mortem yang dikirimkan pihak keluarga. Kepolisian berjanji akan bekerja secepat mungkin, tapi tetap mengedepankan ketelitian dan keakuratan.
Diketahui, hingga Jumat (3/10/2025) malam, korban meninggal akibat ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo adalah 13 orang. Sedangkan 45 lainnya masih dalam proses pencarian.
Editor : Narendra Bakrie
