Tangan Palsu untuk Nur Ahmad, Santri Surabaya Korban Ambruknya Ponpes Al-Khoziny
Kamis, 16 Okt 2025 10:23 WIBNur Ahmad menjadi satu-satunya santri Al Khoziny asal Surabaya yang harus menjalani proses diamputasi.
Nur Ahmad menjadi satu-satunya santri Al Khoziny asal Surabaya yang harus menjalani proses diamputasi.
Jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah Seluruh Indonesia yang berpusat di Cileungsi, Bogor Jawa Barat menyampaikan belasungkawa mendalam atas musibah ambruknya bangunan mushalla di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur
Operasi SAR ambruknya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran, Sidoarjo resmi ditutup.
Belum dapat dipastikan hingga saat ini masih ada berapa korban yang berada di balik reruntuhan bangunan. Namun proses evakuasi akan terus dilakukan.
Hingga pukul 12.00 WIB, tim gabungan pencarian dan pertolongan (SAR) telah menemukan 12 jenazah baru serta satu potongan tubuh manusia.
Hingga berakhirnya proses pencarian hari keenam, Sabtu (4/10/2025) pukul 23.59 WIB, jumlah korban meninggal akibat reruntuhan musala Pondok Pesantren Al Khoziny terus bertambah. Basarnas melaporkan total korban tewas kini mencapai 26 orang.
Tim DVI berhasil mengidentifikasi para jenazah melalui sidik jari, gigi, medis, dan properti (barang milik korban).
"Ini tambah satu lagi. Jadi total yang dievakuasi ke sini (RS Bhayangkara) ada 13 jenazah," sebut Kabid Dokkes Polda Jatim, Kombes Pol M Khusnan.
"Hingga saat ini total korban meninggal menjadi 15 orang," terang Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit.
Suasana cemas menyelimuti setiap sudut rumah sakit. Keluarga korban dengan setia menanti kabar dari Tim DVI yang terus bekerja.
Hingga malam ini, tercatat 13 korban yang meninggal dunia, delapan di antaranya masih menjalani pemeriksaan oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim.
Khofifah Ingin memastikan proses identifikasi jenazah korban ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, berjalan optimal dan profesional.
Dari lima jenazah yang kini berada di RS Bhayangkara Polda Jatim, rata-rata merupakan anak-anak. Diperkirakan usianya 12 sampai 15 tahun.
Penemuan korban dilakukan secara bertahap mengingat kondisi bangunan yang terdiri dari empat lantai yang runtuh ke bawah.
Tim SAR membutuhkan waktu lama karena harus lebih dulu mengangkat dan menghancurkan material bangunan