Mili.id — Keterbatasan fisik tak menjadi penghalang bagi El Panta Tarigan untuk meraih pendidikan tinggi. Pemuda asal Medan ini berhasil menyelesaikan studi sarjana di Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
El kehilangan penglihatan sejak usia 12 tahun, yang menjadi titik terberat dalam hidupnya. Namun, ia memilih bangkit dan merantau ke Surabaya demi mengejar cita-cita di dunia pendidikan.
Baca juga: Kisah Mahasiswa Disabilitas dari UNESA saat Magang MBKM di SLBN Porong Sidoarjo
Perjalanan akademiknya ditutup dengan manis saat ia mengikuti wisuda bersama rekan-rekannya. Kelulusan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan visual bukanlah halangan untuk meraih prestasi.
Dalam menyelesaikan tugas akhir, El meneliti peran Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) dalam meningkatkan keterampilan sosial penyandang disabilitas di Lamongan.
Ia mengandalkan teknologi screen reader untuk membaca materi hingga menyusun skripsi secara mandiri. “Teknologi membantu saya tetap mandiri dalam belajar dan menyusun tugas akhir,” ujarnya.
Tak hanya berprestasi di bidang akademik, El juga aktif sebagai atlet paralimpik. Ia pernah meraih medali tolak peluru pada ajang Pekan Paralimpik Pelajar 2017, serta menjuarai goalball tingkat provinsi pada 2019. Selain itu, ia juga aktif sebagai atlet catur.
Dengan tinggi badan mencapai 215 sentimeter, El kerap menjadi pusat perhatian. Meski menghadapi tantangan dalam keseharian, seperti mencari pakaian dan sepatu ukuran khusus, ia tetap bersyukur atas keunikan tersebut.
Momen wisudanya semakin berkesan saat pihak kampus memberikan beasiswa untuk melanjutkan studi jenjang magister (S-2). El mengaku siap memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendalami pendidikan inklusif.
“Jika diberi kesempatan, saya ingin melanjutkan S-2 dan memperdalam pendidikan inklusif,” katanya.
Ke depan, El bertekad kembali ke Sumatera Utara untuk mengabdi sebagai pendidik. Ia ingin membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak disabilitas di daerah asalnya.
Editor : Redaksi
