HIPMI Jateng yang terdiri dari mahasiswa dari Undip dan ITB datang ke Kampoeng Batik Semarang, Minggu, (21/6/2026).(mili.id)
Mili.id, Semarang- Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Tengah (Jateng) dari Perguruan Tinggi berbagi ilmu bersama pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Semarang.
Tidak saja fokus bidang edukasi, namun pengusaha muda yang tergabung dalam HIPMI PT Jateng juga terlibat langsung mendukung pelaku usaha kecil di Semarang.
Baca juga: Benarkah Algoritma Medsos Kerap Munculkan Konten Nuansa Negatif dan Emosional
Haidar Nejad Ketua Umum HIPMI PT Jateng mengungkapkan, keterlibatan dalam pengembangan usaha dan market brand Semarang khususnya Batik menjadi bagian dari langkah organisasi untuk peran aktif mendukung pertumbuhan ekonomi.
"Kehadiran pengurus HIPMI PT ITB dari Bandung kita manfaatkan untuk mengenal Batik Semarangan. Sambil belajar membantik sisi lain kita jadi marketing dukung Batik Semarangan biar lebih dikenal secara nasional," ungkapnya, Minggu (21/6/2026).
Haidar Nejad menambahkan, edukasi usaha bagi pengurus HIPMI dilakukan dengan menggandeng Kampoeng Djahdoel Batik, Semarang.
Tidak saja manajemen, namun anggota dan pengurus juga bisa melihat langsung proses produksi UMKM batik di Semarang.
"HIPMI PT Jateng, HIPMI PT Universitas Diponegoro, HIPMI PT ITB Bandung bersama melihat dan belajar proses produksi hingga pemasaran UMKM Batik di Kampoeng Djahdoel Semarang," la jut Haidar.
Lebih lanjut Haidar Nejad menambahkan, kehadiran di Kampoeng Djahdoel Batik, pihaknya mengajak generasi muda dukung produk dan brand lokal untuk lebih mendunia.
"Sebanyak 30 anggota HIPMI dari dua Universitas mendapatkan edukasi langsung hingga praktek produksi batik dari masih kain putih hingga proses distribusi," imbuhnya.
Baca juga: Posyandu 6 SPM Tembalang Tembus Dua Kelurahan, Moms Udah Tahu Apa Saja Pelayanannya?
Harapan senada diungkap, Rizky Najagar Ketua HIPMI PT Universitas Diponegoro. Kehadiran diindustri secara langsung juga bisa memberi manfaat dari dua sisi.
Secara market, HIPMI Perguruan Tinggi berusaha perkuat brand Batik Semarang kepada wisatawan yang berkunjung.
"Manfaat kedua, anggota dan pengurus juga mendapat nilai plus diluar akademis yang dijalani selama kuliah atau malah merintis usaha Batik selama masih kuliah sehingga bisa memberi pendapatan," urainya.
Kehadiran mahasiswa sekaligus pelaku usaha muda ke Kampoeng Djahdoel juga bagian dari pengenalan destinasi di Kota Semarang.
Selain kuliner, Batik Semarang juga menjadi daya tarik dan buah tangan bagi wisatawan.
Baca juga: Miliki Massa Besar dan Berpotensi, OJK dan Fatayat NU Jateng Bentuk Kerjasama Ini
Sementara itu, Luwi Salah satu perwakilan pengrajin Batik menjelaskan, membatik tidak saja sebatas menorehkan malam diatas kain sehingga menjadi pola tertentu.
Namun, pola yang di canting memiliki cerita sehingga pemahaman terkait pola yang ada juga menjadi bagian dari proses pembuatan Batik.
"Tidak saja nama dan sejarah Batik itu sendiri, Pengurus HIPMI juga kita ceritakan sejarah munculnya Kampoeng Djahdoel Batik. Dengan memahami diharapkan kaum muda akan lebih bangga belanja dan mengenakan Batik," ungkapnya. (****)
Editor : M Priyo Prabowo
