Anak sulung pasangan Salikin (52) dan Ratnawati (47) menata pertulo yang sudah siap dijemur di bawah terik matahari (Foto: Nana/mili.id)
Mojokerto - Asap pembakaran kayu bakar dari dapur rumah di Dusun Batancilik, Desa Pagerjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto membumbung tinggi ke udara.
Aroma asap khas sisa-sisa kayu jati dan pete yang terbakar, tercium dari luar rumah sejak pagi buta.
Baca juga: Baru Bebas Tiga Bulan, Residivis Curanmor Kembali Beraksi di Empat Lokasi
Yah, pasangan suami istri Salikin (52) dan Ratnawati (47) bersama anak sulungnya sudah sejak pukul 04.45 WIB mulai melakukan proses produksi 25 kilogram akar kelapa atau dikenal masyarakat Jawa jajanan pertulo hingga pukul 10.00 WIB setiap harinya.
Mulai dari pemilihan beras hingga menjadi tepung, diolah sendiri pria yang putus sekolah dasar ini. Beras sebanyak 6 kilogram dicuci bersih, kemudian digiling menjadi tepung di ruang produksi berukuran 4x6 meter persegi.
Tepung beras yang sudah jadi itu kemudian dikukus dalam dandang aluminum selama 15 menit. Sebelum akhirnya dicampur bersama tepung tapioka, bumbu khas pertulo Bima Jaya, maupun air sampai kalis.
Ratnawati (47) bersama anak sulungnya sudah sejak pukul 04.45 WIB mulai melakukan proses produksi akar kelapa atau dikenal masyarakat Jawa jajanan pertulo hingga pukul 10.00 WIB setiap harinya (Foto: Nana/mili.id)
Proses itu dilakukan agar adonan pertulo siap dicetak menggunakan mesin buatannya sendiri.
"Satu kali adonan habis 6 kilogram tepung beras, ini tinggal dicetak saja. Kalau dulu manual (Tahun 2014). Sekarang cepat, sudah pakai mesin bikinan saya sendiri," beber pria yang dulu pernah bekerja di pabrik krupuk itu, Jumat (3/5/2024).
Setelah dimasukkan ke alat pencetak, dengan terampil jari jemari istri dan anaknya mulai membentuk adonan pertulo yang menyerupai akar kelapa.
Sementara, kaki keduanya secara bergantian mendorong pemutar alat pencetak agar adonan tetap keluar dengan bentuk yang diingingkan.
Adonan yang keluar dari cetakan, dan sudah dibentuk, lalu sesegera mungkin dipindahkan menggunakan spatula ke puluhan nampan berbahan bambu.
Tungku buatan Salikin yang sudah dipanaskan pun sudah siap untuk mengkukus 60 nampan berisikan adonan pertulo yang sudah dicetak sempurna.
Baca juga: Tergiur Ritual Penggandaan Uang, Warga Kehilangan Rp22 Juta di Mojokerto
Dandang raksasa yang dilubangi bagian bawahnya, mulai dikerek ayah dua anak ini secara perlahan dari atas tungku hingga menutup keseluruhan bagian nampan.
Pertulo siap dikukus selama 30 menit, sebelum kembali dijemur di bawah terik matahari untuk menyusutkan kandungan air yang tersisa.
Salikin (52) menata pertulo yang sudah siap dijemur di bawah terik matahari (Foto: Nana/mili.id)
Bahkan, pertulo siap goreng yang sudah dijemur selama 3 hari ini harus dimasukkan ke dalam oven buatannya, sebelum dikemas 500 gram-an.
Tentunya, proses tergolong rumit ini untuk memastikan kandungan air dalam adonan tidak ada. Alhasil, menjaga kualitas pertulo agar tak berjamur dan bertahan lama hingga satu tahun lamanya.
Pertulo Bima Jaya yang bertahan sejak 10 tahun lalu dengan cara dikukus menggunakan kayu bakar ini siap dipasarkan dengan harga jual hanya Rp16 ribu per 500 gram.
Baca juga: Pemkot Mojokerto Gandeng 30 Penyedia Makan Minum, Harga Nasi Kotak Ditetapkan Lewat Kontrak Payung
Baik itu di wilayah Kabupaten Mojokerto, maupun dibawa menjadi oleh-oleh ke luar daerah, seperti Bali, Semarang, Sumatera, dan Aceh.
"Ada langganan sendiri yang ambil ke sini, biasanya di jual ke pasar-pasar. Ada juga yang buat oleh-oleh, dibawa ke Bali, Aceh. Katanya gurih ada aroma khas, dulukan gak ada sekarang keluar lagi pertulo dari tepung beras ini," ucap pria yang pernah merantau ke Aceh ini.
Dari modal awal pinjaman yang hanya Rp400 ribu, pria yang juga bekerja sampingan sebagai pembeli rongsokan keliling ini sudah bisa menghasilkan omset Rp1,5 juta sampai Rp2 juta dalam satu bulan saat hari-hari biasa.
Lain hal saat bulan ramadan, pesanan dari pelanggan setianya membludak mencapai 60 kilogram dalam sehari. Dan menjadi berkah tersendiri bagi keluarganya meski harus menolak pesanan 10 hari jelang lebaran karena kewalahan.
"Alhamdulillah bisa buat sekolah anak, biaya hidup, terus mengembangkan tempat produksi ini. Bisa buat bikin alat cetak juga, dulu awal-awal masih manual, 1 adonan selesai sampai jam 3 sore, sekarang 1 adonan 30 menit udah selesai cetak," pungkasnya.
Editor : Narendra Bakrie
