ilustrasi (iStock: valentinrussanov)
Mili.id - World Schizophrenia Awareness Day atau Hari Kesadaran Skizofrenia Sedunia diperingati setiap 24 Mei.
Peringatan ini bertujuan untuk mematahkan stigma dan meningkatkan kesadaran untuk perawatan kesehatan mental yang lebih baik.
Baca juga: Gerak Cepat Anas Karno, Keluhan Air Bersih Langsung Ditindaklanjuti
Skizofrenia adalah gangguan mental yang ditandai dengan gejala psikotik persisten seperti halusinasi pendengaran dan atau visual, pemikiran delusi, disosiasi dari kenyataan, serta pikiran dan perilaku yang tidak terorganisir.
Penyebab halusinasi pada skizofrenia belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa teori yang mencoba menjelaskannya.
Salah satunya adalah teori dopamin, yang menyatakan bahwa halusinasi disebabkan oleh kelebihan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berperan dalam mengatur mood, motivasi, dan persepsi.
Kelebihan dopamin dapat menyebabkan otak menginterpretasikan rangsang internal atau eksternal secara salah, sehingga menimbulkan halusinasi.
Baca juga: HUT Bhayangkara Jadi Momentum BRI Jemursari Perkuat Sinergi dengan Polda Jatim
Teori lain adalah teori disfungsi korteks, yang menyatakan bahwa halusinasi disebabkan oleh gangguan pada korteks serebral, yaitu bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi kognitif seperti memori, bahasa, dan kesadaran.
Gangguan pada korteks serebral dapat menyebabkan otak tidak dapat membedakan antara informasi yang berasal dari dalam atau luar diri, sehingga menimbulkan halusinasi.
Penyakit ini biasanya mulai terlihat ketika pasien berusia awal dua puluhan. Meskipun dalam kasus yang jarang terjadi, gejalanya dapat muncul pada masa kanak-kanak.
Baca juga: PALM PARK Surabaya Hadirkan Staycation Seru Saat Libur Sekolah
Penderita biasanya dicirikan dengan halusinasi, pembicaraan yang tidak nyambung, merasa berbeda, dan disertai perilaku agresif seperti merusak dan melukai orang lain hingga nekat mengakhiri hidup.
Menurut data World Health Organization (WHO) pada 2019 lalu, ada lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia yang mengidap penyakit mental ini.
Sementara menurut disability-adjusted life years (DALYs) rate pada 2022, Indonesia menempati posisi pertama dari 10 negara tertinggi Kasus Skizofrenia dengan angka DALYs-nya berdasarkan usia per100.000 penduduk yang dicatat pada tahun 2004, yakni ada 321,870 penderita skizofrenia.
Editor : Aris S
