Ilustrasi (Image by Freepik)
mili.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat ada 11 remaja di wilayahnya yang terdeteksi terjangkit penyakit sifilis.
"Penyebab utamanya dampak dari pergaulan bebas. Kami sangat miris dan perihatin mengetahui ini," terang Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto dalam keterangannya, Senin (24/6/2024).
Baca juga: Lima Terpidana Korupsi Kembalikan Kerugian Negara Rp3,01 Miliar di Blitar
Anggit menyebut, temuan penyakit menular ini didapat setelah melakukan serangkain pemeriksaan sejak Januari hingga Mei 2024.
"Dari catatan kami, mereka yang terjangkit penyakit yang dijuluki Raja Singa ini mayoritas berusia 18-19 tahun. Para penderita sifilis ini sudah mendapatkan penanganan medis," jelas Anggit.
Anggit menerangkan bahwa penyakit sifilis disebabkan hubungan seksual tanpa pengaman, di mana salah satu pasangannya sudah tertular penyakit seksual.
"Sifilis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Treponema Pallidum, namun bisa disembuhkan," ungkap dia.
Baca juga: Bupati Blitar Serap Aspirasi Generasi Muda Melalui Temu dan Dialog Anak
Anggit menyebut, dari belasan remaja yang terkena sifilis ada dari pria maupun perempuan, yang ditemukan di antaranya dari kesadaran melakukan tes saat pemeriksaan kehamilan.
Katanya, tes atas kesadaran sendiri karena merasa beresiko dan pemeriksaan dari petugas kesehatan karena gejala dari pasien yang mengarah ke penyakit ini.
"Penyakit ini ditularkan secara seksual seperti berganti pasangan tanpa pengaman dan juga ditularkan oleh ibu kepada janin selama kehamilan. Ini bahaya jika terus terjadi," terang Anggit.
Baca juga: Pemkab Blitar Percepat Legalitas Lahan, Proyek Sekolah Rakyat Tunggu Perubahan Status LP2B
Atas temuan ini, pihaknya berharap kesadaran masyarakat yang berisiko untuk periksa semakin tinggi. Karena semakin dini diketahui, maka semakin cepat ditangani.
"Dari data Tahun 2023 saja, ada sebanyak 92 orang di kabupaten Blitar yang positif penyakit sifilis. Dan sekarang sampai ke remaja-remaja. Ini sangat miris. Kami berharap kepada masyarakat sadar akan risikonya," pungkasnya.
Editor : Narendra Bakrie
