DPRD Surabaya Ungkap Alasan Tak Panggil SMA Cita Hati Soal Kejadian di SMA Gloria 2

DPRD Surabaya Ungkap Alasan Tak Panggil SMA Cita Hati Soal Kejadian di SMA Gloria 2 © mili.id

Komisi D DPRD Kota Surabaya saat hearing dengan SMA Gloria 2 (Foto: Bejo/mili.id)

Surabaya - Komisi D DPRD Surabaya hanya mengundang pihak SMA Kristen Gloria 2 dalam rapat dengar pendapat (hearing) beberapa waktu lalu.

Padahal, keributan di depan SMA Gloria 2 Surabaya itu juga melibatkan orangtua dari siswa SMA Cita Hati kota setempat.

Baca juga: Rayakan Hari Anak Nasional 2026 Melalui Ruang Berkarya yang Setara di Dafam Pacific Caesar Surabaya

Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Imam Syafi'i menyampaikan pandangannya soal itu.

"Kami tidak melakukan hearing dengan sekolah (SMA) Cita Hati, mengingat sekolah itu tidak terlibat dalam masalah tersebut. Masalah tersebut hanya dilakukan oleh oknum orangtua siswa (SMA) Cita Hati yang terjadi di area SMA Gloria 2," papar Imam saat dikonfirmasi mili.id, Selasa (29/10/2024).

Baca juga: Eri Cahyadi Ancam Tutup Usaha Bandel Soal Pajak Dan Parkir

Menurut Imam, undangan terhadap SMA Gloria 2 Surabaya beberapa waktu lalu bukan dalam konteks sekolahnya. Melainkan terkait korban yang merupakan warga Surabaya dan lokasi kejadian di sekitar sekolah.

"Kami tidak mempunyai wewenang untuk memanggil sekolah SMA atau SMK, itu wilayah provinsi. Terkait sekolah Gloria 2 yang kita panggil waktu lalu dikarenakan korban merupakan warga Surabaya dan kejadian tersebut terjadi di area sekolah," ungkap Politisi Partai NasDem itu.

Baca juga: Dengan Semangat Kemerdekaan RI, PLN Gencarkan Promo Tambah Daya 50 Persen di Darmo Free Day

Di sisi lain, Imam mengaku bahwa Komisi D sudah sudah menelusuri peristiwa tersebut. Di mana peristiwa terjadi antara oknum orangtua siswa SMA Cita Hati dengan salah satu siswa SMA Gloria 2 Surabaya.

"Kami menyesalkan adanya kejadian tersebut. Pendidikan di Surabaya harus diperhatikan dengan baik dan harus dijadikan contoh bagi sekolah lain, agar tidak terjadi lagi. Kami sudah minta kasus itu dilaporkan ke polisi, mengingat kejadian dilakukan oknum orangtua siswa yang merusak citra pendidikan di Surabaya," bebernya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait