Mojokerto Waspada PMK, 8 Ekor Sapi Mati dalam Sepekan

Mojokerto Waspada PMK, 8 Ekor Sapi Mati dalam Sepekan © mili.id

Sapi milik Sujik yang terjangkit PMK di Dusun Gogor, Desa Madureso, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto (Foto: Nana/mili.id)

Mojokerto, mili.id - Warga Mojokerto perlu waspada serangan penyakit mulut dan kaki (PMK), menyusul matinya 8 ekor sapi, hanya dalam sepekan.

8 ekor sapi yang mati terserang PMK itu, semuanya berada di wilayah Desa Madureso, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.

Baca juga: Baru Bebas Tiga Bulan, Residivis Curanmor Kembali Beraksi di Empat Lokasi

"Total ada delapan sapi di Desa Madureso yang mati karena diserang PMK. Ini dalam satu minggu," jelas Kepala Desa Madureso, Suwarno kepada mili.id, Selasa (31/12/2024).

Ia merinci, 5 ekor sapi yang mati berada di Dusun Gogor, 2 ekor di Dusun Guyangan, dan 1 ekor di Dusun Madureso.

"Semua sapi yang mati milik warga, dan dari tiga dusun," imbuh Suwarno.

Sujik, salah satu pemilik sapi yang terjangkit apthovirus ini mengaku, 3 ekor sapi yang ada di kandangnya sudah terpapar sejak Selasa (23/12/2024) lalu. Dan 4 ekor lainnya masih dipisahkan agar tidak terpapar.

Sejak saat itu pula, 3 ekor sapi itu mulai mengalami penurunan nafsu makan, lidah berjamur, hidung mengeluarkan cairan dan mengeluarkan air liur berlebih.

"Sudah dari Selasa minggu lalu. Mulai tidak mau makan, area mulut dan lidah seperti sariawan gitu," ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, dirinya dan istri memilih memberi makan sapi-sapi yang terjangkit dengan cara menyuapi rerumputan ke dalam mulut secara langsung setiap hari sejak terpapar virus.

Baca juga: Tergiur Ritual Penggandaan Uang, Warga Kehilangan Rp22 Juta di Mojokerto

"Yah tiap hari saya sama istri ngasih makan langsung gini ini. Dari pagi sampai siang. Nanti malam lagi ke sini lagi sampai jam 11 malam," imbuh Sujik.

Dia juga mengolah ramuan atau jamu dari bahan-bahan herbal. Seperti kunyit, temulawak dengan tambahan madu, dan telor ayam kampung yang dianggap sebagai penjaga imun ternak berkaki empat itu.

"Supaya daya tahan tubuhnya tetap kuat, dan bisa tetap bertahan hidup (melalui masa terinfeksi virus)," aku Ketua Kelompok Petani Jaya ini.

Ia pun mengaku, telah berkoordinasi dengan pihak Pemkab Mojokerto terkait penularan PMK yang sudah terjadi sejak pekan lalu ini.

Yakni, dilakukan pemantauan terhadap sapi-sapi yang terjangkit dan pemberian obat selama masa inkubasi.

Baca juga: Pemkot Mojokerto Gandeng 30 Penyedia Makan Minum, Harga Nasi Kotak Ditetapkan Lewat Kontrak Payung

"Sudah tapi terbatas tidak bisa melangkah ke kandang-kandang lain, karena pemilik kandang lain tidak mau dimasukki orang-orang yang pernah masuk ke kandang yang terpapar," ungkapnya.

Sejumlah peternak memilih melakukan pemotongan terhadap hewan yang terpapar PMK. Tak lain agar tidak merugi terlalu besar.

"Daripada merugi banyak, akhirnya sudah ada yang dipotong paksa sama peternak. Dagingnya masih bisa digunakan," pungkasnya.

 

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait