Ilustrasi/mili.id
Jakarta, mili.id - Kabar adanya Surat Izin Mengemudi (SIM) gratis yang viral di media sosial dipastikan hoaks alias tidak benar.
Hal itu disampaikan Kasubdit SIM Ditregident Korlantas Polri, Kombes Pol Dhafi.
"Untuk SIM gratis itu tidak ada. Kalau ada yang ngasih informasi lewat Instagram atau TikTok dan sebagainya terkait dengan SIM gratis itu adalah hoaks, tidak benar," terang Dhafi dalam laman Divhumas Polri, Kamis (24/4/2025).
Dhafi menjelaskan, SIM bukan hanya dokumen administratif, melainkan bukti keahlian seseorang dalam mengemudi.
Seiring bertambahnya usia, perubahan kondisi fisik atau mental, kemampuan mengemudi seseorang bisa berkurang. Oleh karena itu, evaluasi berkala sangat penting.
"SIM itu harus merupakan satu keahlian untuk bisa membawa kendaraan, bahwasanya keahlian setiap orang itu karena dia menjalani aktivitas sehari-hari bertambahnya usia kemampuan bisa berkurang. Kalau secara psikologis harus diukur apakah dia sudah mampu atau belum atau sudah mampu, nanti sekian tahun lagi apakah dia mungkin pernah mengalami kecelakaan sehingga dia tidak mampu lagi untuk membawa kendaraan bermotor itu," papar Dhafi.
Kasubdit SIM Ditregident Korlantas Polri, Kombes Pol Dhafi (Foto: Divhumas Polri)
Merujuk pada ketentuan peraturan perundang-undangan, pengemudi wajib menjalani ujian ulang setiap 5 tahun sekali. Di mana uji ini mencakup aspek psikologi dan kesehatan untuk memastikan kelayakan seseorang demi keselamatan dan nyawa seseorang.
"Diatur di peraturan perundang-undangan ada di Pasal 85 terkait dengan SIM harus diuji lagi setelah lima tahun, bisa membawa kendaraan atau tidak, psikologisnya di uji lagi kesehatannya diuji lagi karena ini menyangkut keselamatan atau nyawa orang lain jadi memang tidak ada untuk SIM seumur hidup," ungkapnya.
Dhafi menyampaikan, SIM tidak hanya sebagai bukti kemampuan mengemudi, tetapi juga sebagai data identifikasi yang dapat digunakan dalam proses hukum seperti penyidikan dan penyelidikan. Oleh karena itu, keakuratan data SIM sangat penting.
"Jadi bersinergi dengan keakuratan data apabila dibutuhkan dalam hal penyidikan atau pepenyelidikan apabila seseorang ada satu masalah jadi memang itu karena dua hal itu terpenting satu masalah adalah kemampuan keterampilan dalam mengemudi yang kedua adalah identifikasi kendaraan yang terkait dengan penyidikan atau penyelidikan," terang dia.
Dhafi mengimbau masyarakat lebih selektif dalam menerima informasi di era digital. Ia mengajak publik untuk selalu mengecek sumber berita, dan memastikan informasi tersebut berasal dari akun resmi Korlantas Polri atau NTMC Polri.
"Dalam zaman keterbukaan komunikasi yang terbuka saat ini harus lebih cermat tentunya kalau melihat SIM gratis harus melihat sumber beritanya dari mana. Kalau bukan dari Korlantas Polri berarti berita itu tidak benar. Jadi lihat IG-nya Korlantas Polri atau NTMC Korlantas Polri pasti sudah benar. Tapi kalau di luar dari Korlantas Polri, sudah pasti tidak benar terkait dengan masalah SIM gratis," pungkasnya.
Editor : Narendra Bakrie
