IRGC Klaim Tutup Selat Hormuz, Tiga Kapal Diusir dari Jalur Strategis Dunia

IRGC Klaim Tutup Selat Hormuz, Tiga Kapal Diusir dari Jalur Strategis Dunia © mili.id

Mili.id — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz ditutup bagi pihak yang dianggap sebagai musuh, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pernyataan resmi yang dilaporkan Al Arabiya pada Sabtu (28/3/2026), IRGC memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintasi jalur vital tersebut berisiko menghadapi “tindakan keras” dari angkatan laut mereka.

Baca juga: Ketegangan AS-Iran Memanas, Saling Serang Picu Kekhawatiran Konflik Meluas

IRGC juga mengklaim telah mengusir sedikitnya tiga kapal kontainer dari berbagai negara yang mencoba melintas di perairan tersebut. Insiden itu terjadi setelah kapal-kapal tersebut disebut bergerak menuju koridor pelayaran yang biasa digunakan untuk lalu lintas internasional.

“Pagi ini, tiga kapal kontainer dari negara-negara berbeda diusir setelah peringatan dari Angkatan Laut IRGC,” demikian pernyataan yang dikutip dari Sepah News pada Jumat (27/3).

Baca juga: Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Indonesia Hadapi Dilema Strategis

Menurut IRGC, upaya pelayaran itu terjadi setelah pernyataan Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz tetap terbuka. Pihak Iran menilai klaim tersebut sebagai informasi yang menyesatkan.

Dalam pernyataan terpisah, IRGC bahkan menuding Trump menyampaikan “pernyataan palsu” terkait situasi di kawasan tersebut. Mereka menegaskan bahwa kontrol penuh atas Selat Hormuz saat ini berada di tangan Iran selama konflik masih berlangsung.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Kebijakan WFH, Tunggu Restu Presiden

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, menjadi pintu keluar utama bagi distribusi minyak dari kawasan Teluk. Penutupan atau gangguan di wilayah ini berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global, terutama sektor energi.

Ketegangan terbaru ini memicu kekhawatiran internasional akan eskalasi konflik yang lebih luas, sekaligus meningkatkan risiko terhadap keamanan jalur perdagangan dunia.

Editor : Redaksi



Berita Terkait