Peta Selat Hormuz
Mili.id - Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas meski sebelumnya sempat tercapai kesepakatan gencatan senjata. Kini, konflik memasuki babak baru dengan Selat Hormuz sebagai pusat ketegangan.
Situasi memanas setelah perundingan lanjutan yang digelar di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan final. Presiden AS, Donald Trump, mengklaim sebagian besar poin negosiasi telah disepakati, namun menemui jalan buntu terkait program nuklir Iran.
Baca juga: Iran Pertahankan Penutupan Selat Hormuz, Kaitkan dengan Situasi Lebanon dan Ekspor Minyak
Sebagai respons, Trump mengumumkan langkah drastis dengan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia. Ia juga melontarkan peringatan keras bahwa setiap ancaman terhadap kapal AS maupun kapal sipil akan dibalas dengan kekuatan penuh.
Upaya diplomasi yang melibatkan Wakil Presiden AS JD Vance dan delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, gagal menghasilkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dua pekan.
Dari Teheran, respons keras langsung disampaikan. Ghalibaf menegaskan Iran tidak akan tunduk pada tekanan Washington dan siap menghadapi segala bentuk ancaman. Senada, Kepala Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, menyebut rencana blokade tersebut sebagai langkah yang “tidak masuk akal”.
Baca juga: Ketegangan AS-Iran Memanas, Saling Serang Picu Kekhawatiran Konflik Meluas
Sikap lebih tegas datang dari Korps Garda Revolusi Islam yang memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati wilayah tersebut akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak secara tegas. Mereka juga menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Iran, meski jalur tersebut masih dibuka untuk kapal non-militer sesuai aturan.
Sementara itu, militer Iran melalui markas Khatam al-Anbiya Central Headquarters mengecam rencana blokade sebagai tindakan ilegal yang setara dengan pembajakan di perairan internasional. Teheran bahkan memperingatkan bahwa jika pelabuhan mereka terancam, maka tidak ada pelabuhan di kawasan Teluk yang akan benar-benar aman.
Di sisi lain, United States Central Command menyatakan blokade akan diberlakukan terhadap kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Namun, kapal dari negara lain yang melintas di Selat Hormuz menuju pelabuhan non-Iran disebut tidak akan dihalangi.
Baca juga: AS dan Iran Dikabarkan Capai Kesepakatan Awal soal Selat Hormuz dan Uranium
Meski demikian, situasi di lapangan masih belum sepenuhnya jelas setelah tenggat waktu penerapan blokade berlalu tanpa konfirmasi resmi. Di tengah ketidakpastian tersebut, Trump kembali mengeluarkan ancaman keras, menyebut kapal-kapal Iran yang mendekati zona blokade akan “dihancurkan”.
Ketegangan ini pun memicu kekhawatiran global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia. Eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan internasional.
Editor : Redaksi
