Industri telekomunikasi nasional tengah menghadapi tekanan serius setelah harga bahan baku dan material kabel fiber optik melonjak hingga 17%.
Mili.id – Industri telekomunikasi nasional tengah menghadapi tekanan serius setelah harga bahan baku dan material kabel fiber optik melonjak hingga 17%. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terganggunya pembangunan infrastruktur digital di Indonesia.
Dilansir dari Detik, Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) mengungkapkan, lonjakan harga tersebut dipicu oleh situasi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok bahan baku industri.
Ketua Umum Apjatel, Jerry Mangasas Swandy, menyebut kenaikan harga sudah berada di level tidak normal. Bahkan, harga material pendukung seperti HDPE—yang digunakan sebagai pelindung kabel fiber optik—ikut terdongkrak signifikan.
“Kalau sebelumnya sekitar Rp10 ribu per meter, kini naik hingga Rp1.500 sampai Rp1.700 per meter,” ujarnya.
Kenaikan ini dinilai berpotensi meningkatkan biaya pembangunan jaringan serta memperlambat ekspansi layanan broadband di berbagai wilayah. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa meluas hingga ke masyarakat, termasuk kemungkinan kenaikan tarif layanan internet.
Apjatel pun telah menyampaikan persoalan ini kepada pemerintah, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta kementerian terkait lainnya. Industri berharap ada langkah konkret berupa intervensi atau insentif untuk menahan laju kenaikan biaya.
Harapan juga disematkan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto agar segera mengambil kebijakan strategis guna menjaga keberlanjutan pembangunan digital nasional.
Dengan meningkatnya ketergantungan pada jaringan internet di berbagai sektor, stabilitas harga bahan baku fiber optik menjadi krusial. Tanpa solusi cepat, percepatan transformasi digital Indonesia berisiko terhambat di tengah momentum pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.
Editor : Redaksi
