Momen Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata saat mengunjungi anak-anak korban beberapa waktu lalu.
Mili.id – Upaya pendampingan hukum dan psikologis terus diberikan kepada keluarga Sri Wahyuni, korban penganiayaan dalam kasus pembunuhan yang dilakukan suaminya sendiri, Satuan, di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.
Fokus pendampingan kini juga mengarah pada BR, anak bungsu pasangan tersebut yang masih berusia 4 tahun. Balita itu dinilai ikut terdampak secara psikologis setelah tragedi berdarah yang menewaskan neneknya, Siti Arofah, pada Rabu (6/5/2026).
Baca juga: 49 Adegan Sadis! Detik-detik Badut Mainan Habisi Mertua di Mojokerto Direka Ulang
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Mojokerto, Harry Witjaksono, mengatakan pihaknya bersama Dinas Sosial telah menawarkan pengasuhan sementara untuk BR selama kedua orang tuanya menjalani proses hukum dan pemulihan.
“Bersama Dinsos kami memberikan bantuan pengasuhan sementara, khususnya kepada anak usia 4 tahun yang terdampak dari aksi kekerasan,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Namun hingga kini, keluarga besar Sri Wahyuni masih mempertimbangkan tawaran tersebut. Suasana duka atas meninggalnya Siti Arofah disebut membuat keluarga belum bisa mengambil keputusan.
Selain itu, Sri Wahyuni juga masih dalam tahap pemulihan fisik dan mental usai menjalani perawatan akibat kekerasan yang dialaminya. Saat ini BR masih diasuh kerabat yang mendampingi Sri Wahyuni.
Baca juga: Fakta Baru, Usai Bercumbu Badut Penjual Mainan di Mojokerto Ngamuk Lihat Chat WA Istri dab PIL
“Pihak keluarga masih pikir-pikir karena masih suasana berkabung. Ibunya juga belum bisa konsentrasi karena masih dalam proses pemulihan,” tambah Harry.
UPTD PPA juga melakukan pendampingan psikologis terhadap keluarga korban. Namun asesmen terhadap BR belum bisa dilakukan secara maksimal karena usianya masih terlalu kecil dan belum dapat berkomunikasi intensif dengan psikolog.
“Belum bisa diasesmen karena usianya kurang dari empat tahun dan belum nyambung jika diajak berbicara,” katanya.
Baca juga: Tes Psikologi Ungkap Badut Pembunuh Mertua di Mojokerto Beraksi Sadar, Dipicu Emosi Keluarga
Sebelumnya, Sri Wahyuni telah menjalani asesmen psikologis setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Dari hasil pendampingan, korban diketahui mengalami trauma berat akibat peristiwa yang merenggut nyawa ibu kandungnya.
Dalam sesi konseling, Sri Wahyuni disebut masih emosional ketika mengingat kejadian tersebut. Bahkan korban tampak ketakutan saat nama Satuan disebutkan.
Tak hanya itu, dua anak lain di lingkungan keluarga juga mendapat pendampingan psikologis karena dinilai turut terdampak konflik rumah tangga yang kerap terjadi sebelum tragedi berlangsung.
Editor : Redaksi
