Mili.id– Jawa Timur kembali mendapat apresiasi dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) atas keberhasilan menghadirkan inovasi di sektor pendidikan yang dinilai berdampak langsung bagi masyarakat. Dua program unggulan milik Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, yakni Program Terapan Ekonomi Guru Non-ASN (Proteg) dan East Java Innovative Education Summit (EJIES), menjadi sorotan dalam penilaian Innovation Government Award (IGA) 2026.
Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri, Yusharto Huntoyungo, menyebut Jawa Timur hingga kini masih menjadi daerah paling inovatif di Indonesia berdasarkan pengukuran indeks inovasi daerah yang dilakukan Kemendagri.
Baca juga: Khofifah Lantik IKA UNAIR Bali, Ajak Alumni Perkuat Ekonomi Daerah
“Jawa Timur bukan dalam posisi aman meskipun sudah menjadi daerah terinovatif. Daerah lain juga terus bergerak dan bisa menjadi lebih kuat. Karena itu akselerasi inovasi harus terus dilakukan,” ujar Yusharto saat kunjungan penilaian di Surabaya, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, kekuatan inovasi Jawa Timur tidak hanya terlihat di level provinsi, tetapi juga merata hingga kabupaten dan kota yang sebagian besar masuk dalam klaster tertinggi daerah inovatif nasional.
Meski demikian, Yusharto mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah membangun budaya inovasi yang kolaboratif dan tidak berjalan sendiri-sendiri antarorganisasi perangkat daerah.
“Sering kali inovasi masih berjalan secara silo. Padahal, kolaborasi menjadi kunci agar inovasi benar-benar berkelanjutan dan berdampak luas,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Ekonomi Program Studi S2 Manajemen Universitas Sriwijaya, Dyah Natalisa, turut memberikan masukan agar Dindik Jatim memperkuat integrasi teknologi digital dalam sistem pendidikan.
Ia juga mendorong transformasi guru berbasis kewirausahaan agar inovasi pendidikan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Jawa Timur.
Selain itu, Dyah menyarankan agar Dindik Jatim melakukan survei penerima manfaat terhadap program-program inovasi yang sudah berjalan, termasuk Proteg dan EJIES, guna mengetahui dampak langsung yang dirasakan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai memaparkan sejumlah capaian inovasi pendidikan periode 2024–2025 di hadapan tim penilai IGA dari Kemendagri.
Aries menjelaskan bahwa Program Proteg menjadi salah satu inovasi yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan serta pemberdayaan guru non-ASN melalui pendekatan ekonomi terapan. Sedangkan EJIES menjadi ruang besar bagi insan pendidikan di Jawa Timur untuk menampilkan ide dan kreativitas inovatif.
“Dindik Jatim memberikan kontribusi jumlah inovasi terbanyak dalam IGA Award dan Jawa Timur menjadi juara satu nasional,” ujar Aries.
Ia menyebut sektor pendidikan memiliki kontribusi signifikan terhadap capaian inovasi daerah Jawa Timur. Bahkan, jumlah inovasi yang berkembang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Menurut Aries, tim Kemendagri juga melihat langsung implementasi berbagai program pendidikan yang dijalankan Dindik Jatim dan dampaknya terhadap sekolah maupun masyarakat.
Karena itu, pihaknya terus mendorong guru-guru di Jawa Timur agar tidak berhenti menciptakan inovasi baru yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Inovasi yang lahir merupakan jawaban atas persoalan yang ada di masyarakat. Tujuannya agar pendidikan benar-benar memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekolah dan masyarakat luas,” tegasnya.
Baca juga: 50 Pengurus DMI se-Jatim Ikuti Pelatihan dan Praktek Tanggap Bencana di BPBD
Aries mengungkapkan, dari total 398 inovasi yang diajukan Dindik Jatim, sebanyak 196 inovasi telah mencapai tingkat kematangan tinggi berdasarkan hasil validasi dan manfaatnya bagi masyarakat.
Tak hanya itu, program East Java Innovative Education Summit (EJIES) juga mencatat antusiasme luar biasa. Hingga saat ini, sekitar 24 ribu inovasi pendidikan telah masuk dalam program tersebut.
Aries juga menekankan pentingnya peran media dalam mendukung penyebaran inovasi pendidikan agar dapat diketahui publik secara luas.
Menurutnya, kolaborasi dengan media menjadi bagian penting dari konsep pentahelix yang menggabungkan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media dalam pengembangan inovasi daerah.
Dengan capaian tersebut, Jawa Timur semakin memperkuat posisinya sebagai provinsi dengan ekosistem inovasi pendidikan terbesar di Indonesia.
Editor : Redaksi
