KH Umar Al Faruq, Ulama yang Menaklukkan Ketakutan dan Menebar Kasih di Randupadangan

KH Umar Al Faruq, Ulama yang Menaklukkan Ketakutan dan Menebar Kasih di Randupadangan © mili.id

Mili.id-Di Desa Randupadangan, Kecamatan Menganti, Gresik, nama KH Umar Al Faruq masih dikenang dengan penuh hormat hingga hari ini. Bukan hanya karena perannya sebagai pendakwah, tetapi juga karena berbagai kisah keteladanan yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Bagi masyarakat setempat, ulama asal Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo itu bukan sekadar tokoh agama. "Ia adalah sosok yang hadir ketika ketakutan melanda, saat wabah menyerang, hingga ketika warga kecil membutuhkan uluran tangan," ujar salah seorang cucu KH Umar Al Faruq, Gus Lis, di Randupadangan Gresik, Kamis(11/06/2026).

Baca juga: KH Ma'shum Faqih, Ponpes Langitan, Pimpin Istighotsah di Haul Akbar ke-23 KH Umar Al Faruq di Randupadangan, Menganti Gresik

Menaklukkan Pohon yang Ditakuti Warga
Para sesepuh Randupadangan masih menyimpan cerita tentang kondisi desa pada masa lalu. Saat itu, wilayah tersebut dikenal sebagai daerah yang wingit atau angker. Di tengah desa berdiri sebuah pohon randu raksasa yang sangat dikeramatkan masyarakat.

Konon, setiap orang yang mencoba menebangnya mengalami berbagai musibah. Bahkan beredar cerita bahwa batang pohon itu mengeluarkan cairan menyerupai darah ketika ditebas.

Ketakutan membuat masyarakat enggan mendekati pohon tersebut. Beberapa ulama yang datang untuk berdakwah pun disebut tidak bertahan lama. Di tengah situasi itu, KH Umar Al Faruq memilih menghadapi persoalan secara langsung. Atas petunjuk gurunya, beliau menancapkan paku besi berukuran besar ke batang pohon setelah membacakan doa-doa tertentu. Namun keesokan harinya, paku tersebut terlepas dengan sendirinya.

Peristiwa yang sama terjadi hingga tiga kali. Barulah pada percobaan terakhir, paku itu tetap tertancap. Setelah itu, pohon yang selama bertahun-tahun dianggap keramat tersebut berhasil ditebang.

Bagi masyarakat, peristiwa itu menjadi titik balik. Perlahan mereka mulai meninggalkan berbagai keyakinan lama dan lebih terbuka menerima dakwah Islam yang dibawa KH Umar Al Faruq. Dari sinilah kemudian berdiri masjid, madrasah, dan berbagai kegiatan pendidikan agama yang menjadi fondasi kehidupan keislaman di Randupadangan.

Saat Wabah Meneror Kampung
Kisah lain yang tak kalah membekas terjadi ketika desa dilanda pagebluk atau wabah penyakit. Penyakit menyebar dengan cepat. Warga jatuh sakit satu per satu. Dalam waktu singkat, sejumlah penduduk meninggal dunia.

Di tengah kecemasan yang meluas, KH Umar Al Faruq mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar lahir dan batin. Beliau menggelar doa bersama, dzikir keliling kampung, serta mengumandangkan adzan dan iqamah di berbagai sudut desa.

Suara adzan menggema dari jalan-jalan kampung yang saat itu dipenuhi rasa takut. Seiring berjalannya waktu, kondisi desa berangsur membaik. Wabah yang sebelumnya menimbulkan kepanikan perlahan mereda. Bagi warga, peristiwa itu menjadi kenangan tentang bagaimana seorang ulama hadir memberikan ketenangan saat masyarakat menghadapi masa-masa sulit.

Doa yang Menenangkan di Tengah Gejolak 1965
Tahun 1965 menjadi masa yang penuh ketegangan bagi banyak daerah di Indonesia, termasuk Randupadangan. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, situasi saat itu sempat memanas akibat kesalahpahaman antara warga dan aparat keamanan pasca-peristiwa G30S.

Kabar tentang jatuhnya korban dari pihak aparat membuat warga khawatir akan adanya tindakan balasan terhadap desa mereka. Dalam suasana mencekam itulah banyak warga mendatangi KH Umar Al Faruq. Mereka meminta doa dan petunjuk.

Alih-alih memperkeruh keadaan, sang kiai mengajak masyarakat tetap tenang dan memperbanyak doa kepada Allah SWT. Hingga kini, masyarakat masih mengenang kisah keselamatan warga yang diyakini sebagai buah dari ketenangan, doa, dan ikhtiar spiritual yang beliau ajarkan.

Ketika Hadiah Besar Berubah Menjadi Masjid
Di antara sekian banyak cerita, ada satu kisah yang sering menjadi contoh tentang keikhlasan KH Umar Al Faruq. Suatu hari, seorang pengusaha asal Sidoarjo datang meminta doa untuk anaknya yang menderita penyakit berat. Berbagai pengobatan telah ditempuh, bahkan hingga ke luar negeri, tetapi hasilnya belum memuaskan.

KH Umar Al Faruq kemudian memberikan doa dan amalan tertentu. Beliau juga menyampaikan harapan agar dalam waktu sekitar empat puluh hari anak tersebut memperoleh kesembuhan dengan izin Allah SWT.

Menurut cerita keluarga, kondisi sang anak berangsur membaik hingga akhirnya sembuh. Sebagai ungkapan syukur, sang ayah memberikan hadiah uang dalam jumlah besar kepada KH Umar Al Faruq.

Namun yang terjadi kemudian justru membuat banyak orang kagum. Alih-alih menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadi, seluruh dana tersebut digunakan untuk pembangunan masjid yang saat itu masih membutuhkan biaya besar.

Mengetahui hal tersebut, sang dermawan justru semakin tersentuh dan kembali membantu pembangunan rumah ibadah itu.

Sahabat Anak Yatim
Keteladanan KH Umar Al Faruq juga tampak dalam kesehariannya.

Baca juga: Mengenang KH Umar Al Faruq, Sang Ulama Sepuh yang Memilih Bersembunyi dari Kemasyhuran di Randupadangan

Hampir setiap pagi, beliau mengajak anak dan cucunya berkeliling kampung. Perjalanan itu bukan sekadar jalan-jalan biasa.

Di sejumlah rumah yang disinggahi, tinggal anak-anak yatim yang menjadi perhatian beliau.

Bantuan diberikan secara rutin. Kadang berupa kebutuhan sehari-hari, kadang dalam bentuk lain yang diperlukan keluarga mereka.

Yang membuat masyarakat terkesan, kegiatan itu dilakukan tanpa banyak bicara dan tanpa ingin diketahui banyak orang.

Beliau tidak hanya mengajarkan sedekah lewat ceramah, tetapi memperlihatkan secara langsung bagaimana sedekah dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Kiai yang Memilih Bersyukur Saat Rugi
Salah satu kisah yang paling sering diceritakan warga adalah tentang dua ekor kambing.

Saat itu, KH Umar Al Faruq memberikan bantuan modal berupa ternak kepada seorang warga agar dapat memulai usaha.

Namun nasib buruk datang. Kedua kambing tersebut mati.

Warga yang menerima amanah itu diliputi ketakutan. Ia merasa gagal menjaga kepercayaan dan khawatir akan dimarahi.

Dengan perasaan bersalah, ia memberanikan diri menemui KH Umar Al Faruq.

Namun jawaban yang diterimanya jauh dari dugaan.

"Alhamdulillah, saya bersyukur yang terkena musibah adalah kambing saya, bukan keluarga saya."

Kalimat sederhana itu langsung menghapus ketakutan yang selama berhari-hari menghantuinya.

Bukan kemarahan yang diterima, melainkan penguatan dan semangat untuk bangkit kembali.

Humor yang Membuat Orang Betah
Di balik kewibawaannya sebagai ulama, KH Umar Al Faruq dikenal memiliki sifat humoris.

Dalam berbagai kesempatan, beliau kerap menyelipkan candaan yang membuat suasana menjadi cair. Warga yang datang berkonsultasi tidak merasa tegang. Mereka justru pulang dengan hati yang lebih ringan.

Sifat ramah dan suka bercanda itu membuat dakwah beliau mudah diterima oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Bertahun-tahun setelah kepergiannya, kisah-kisah tentang KH Umar Al Faruq masih hidup di tengah masyarakat Randupadangan. Bukan semata karena cerita-cerita luar biasa yang menyertainya, melainkan karena nilai-nilai yang diwariskannya: keberanian menghadapi tantangan, kepedulian kepada sesama, keikhlasan dalam beramal, serta kemampuan menghadirkan ketenangan di tengah kesulitan.

Jejak itu tidak hanya tertinggal pada bangunan yang didirikannya, tetapi juga pada hati masyarakat yang pernah merasakan sentuhan dakwah dan keteladanan beliau.

Editor : Muhammad



Berita Terkait