Asal Muasal Pusaka Raden Bagus Asra, Ki Ronggo Bondowoso

Asal Muasal Pusaka Raden Bagus Asra, Ki Ronggo Bondowoso © mili.id

Pesarean Ki Ronggo Raden Bagus Asra di Kelurahan Sekarputih, Kecamatan Tegalampel, Bondowoso. (Deni AW/Mili.id)

Bondowoso - Raden Bagus Asra, bupati pertama Bondowoso adalah sosok legendaris di kota yang terkenal dengan makanan khas tapai.

Ki Ronggo, begitu gelar yang disandangnya. Semasa hidupnya dikenal sebagai tokoh religius dan seorang pemimpin bijak.

Baca juga: Polres Bondowoso Amankan DPO Kasus Curanmor di Tol Kalikangkung Jawa Tengah

Raden Bagus Asra lahir di Pamekasan, Madura dan kemudian diasuh oleh Kiai Patih Alus atau Kiai Adipuro, pemangku di karesidenan besuki.

Raden Bagus Asra kemudian mendapatkan titah dari ayah angkatnya itu untuk membangun sekaligus memimpin wilayah di antara jalur Lamajang (Lumajang) dengan Patukangan (Panarukan Situbondo).

Perjalanan Raden Bagus Asra bersama rombongan cukup ikonik dan melegenda hingga saat ini.

Mereka berjalan kaki dari Besuki ke wilayah yang sekarang disebut Bondowoso dengan ditemani seekor kerbau yang berrnama Si Melati.

"Berhentinya Si Melati inilah yang kemudian menjadi tempat yang sekarang terbangun alun-alun Bondowoso," kata Sinung Sudrajat, salah seorang keturunan dari Raden Bagus Asra kepada Mili.id, Kamis (8/2/2024).

Selama perjalanan, rombongan dituntun oleh dua jenis hewan yakni kijang dan ayam hutan.

"Itulah mengapa ada pantangan bahwa keturunan Raden Bagus Asra dilarang memakan kijang dan ayam hutan," ulas warga Kelurahan Nangkaan, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso ini.

Raden Bagus Asra bersama pasukan masuk ke wilayah yang kini menjadi Bondowoso sekira tahun 1790 an.

Baca juga: HUT Bhayangkara ke-80, Polres Bondowoso Gelar Khitanan Massal dan Cek Kesehatan Gratis di Prajekan

"Sedangkan pemerintahan Bondowoso resmi terbentuk pada tahun 1819," ucapnya.

Selain memimpin pemerintahan, Raden Bagus Asra juga mensyiarkan ajaran Islam.

"Bahkan ketika usia beliau sepuh, beliau Madek Pandita (bertapa) di wilayah Jember," tuturnya.

Ketika menjelang ajal, Raden Bagus Asra meminta kepada para keluarganya untuk dimakamkan di Asta Tenggi.

"Asta Tenggi dulunya padepokan beliau. Tempat beliau menjalankan dialog spritual. Sekarang jadi pesarean beliau beserta keturunannya," kata Sinung.

Baca juga: Jumat Berkah Berbagi Polres Bondowoso, 500 Nasi Kotak Dibagikan kepada Jamaah Usai Salat Jumat

Sebelum wafat, Raden Bagus Asra menyampaikan kalimat pusaka yang dikenang hingga sekarang yakni Suci Tinata Estuning Urip.

"Itu warisan ilmu dari leluhur yang hanya ada di Bondowoso. Artinya Berbuat kebaikan dalam kehidupan ini sebagai bekal kelak di kehidupan selanjutnya," ulasnya.

Menurut Sinung, kalimat ini ikonik dan seharusnya menjadi jargon tetap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso.

"Sebenarnya pemerintah kita tidak perlu jargon macam-macam. Sebab (Suci Tinata Estuning Urip) itu sudah sangat ikonik," ucap Sinung.

Editor : Achmad S



Berita Terkait