Domba batur merupakan hasil persilangan antara domba merino, yang berasal dari Eropa dan diambil dari Australia, dengan domba ekor tipis yang merupakan domba lokal Indonesia.(Ist)
Mili.id - Dalam acara Dieng Culture Festival (DCF) XIV tahun 2024 ada yang beda dari yang sebelumnya yakni digelarnya Festival Domba Batur yang bagian dari gelaran tersebut.
Tak dipungkiri, domba batur, yang menjadi sorotan utama dalam festival yang digelar akhir bulan lalu ini memiliki sejarah panjang dan merupakan warisan unik dari Kecamatan Batur, Banjarnegara.
Baca juga: SWF 2026 Dorong Pertumbuhan Industri Pernikahan dan Ekonomi Lokal Surabaya
Dilansir dari indonesi.go.id, sejarah domba batur dimulai pada 1970-an ketika petani lokal melakukan persilangan antara domba merino, yang berasal dari Eropa dan diambil dari Australia, dengan domba ekor tipis yang merupakan domba lokal Indonesia.
Persilangan ini menghasilkan galur baru yang diakui secara resmi oleh Kementerian Pertanian pada 2011, sebagai jenis domba yang khas dan unik, yang kemudian diberi nama domba batur.
"Awalnya, populasi domba batur hanya sekitar 20 ekor. Kini jumlahnya berkembang pesat hingga mencapai lebih dari 10.000 ekor," ujar Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara Firman Sapta Ady kepada wartawan.
Firman menambahkan, domba batur tersebar di empat kecamatan sentra pengembangan, yakni Batur, Pejawaran, Pagentan, dan Wanayasa. Di sana, kondisi geografis dan iklimnya sangat cocok untuk perkembangan domba batur.
Keunikan Morfologi
Salah satu daya tarik utama domba batur adalah morfologinya yang unik. Domba ini memiliki tubuh yang berbentuk segi empat dan bulat, serta bobot yang jauh lebih besar dibandingkan domba lokal lainnya.
Pejantan domba batur yang berusia dua tahun bisa mencapai berat lebih dari 100 kilogram, sementara betinanya bisa mencapai 80 kilogram.
Sebagai perbandingan, domba lokal biasanya hanya memiliki bobot sekitar 60 kilogram untuk pejantan dan 40 kilogram untuk betina.
Baca juga: Program Speling Diperluas, Gubernur Jateng Pastikan Layanan Dokter Spesialis Masuk Desa
Selain ukurannya yang besar, domba batur juga dikenal karena bulunya yang tumbuh di seluruh tubuh, termasuk di muka dan kaki.
Bulu-bulu ini tidak hanya memberikan tampilan yang menggemaskan, melainkan berpotensi untuk dimanfaatkan dalam berbagai kerajinan tangan.
"Namun, untuk industri wol, kita belum bisa mengarah ke sana karena jumlah populasi yang dibutuhkan cukup besar, sekitar 30 ribuan ekor," jelas Firman.
Festival Domba Batur di DCF 2024 menampilkan berbagai kegiatan menarik yang melibatkan para peternak lokal.
Mereka memamerkan domba-domba terbaik mereka, yang dinilai berdasarkan berbagai kriteria, termasuk morfologi, kebersihan, dan kesehatan.
Baca juga: MAKI Jatim Tutup UMKM Fest 3 dengan Penyerahan Hadiah Lomba Karaoke Antar OPD
Selain itu, pengunjung juga diberikan kesempatan untuk lebih mengenal domba batur melalui sesi informasi dan pameran produk-produk kerajinan yang terbuat dari bulu domba tersebut.
Firman berharap, dengan masuknya Festival Domba Batur ke dalam rangkaian acara DCF, masyarakat akan semakin mengenal dan menghargai warisan peternakan ini.
"Domba batur adalah bagian dari identitas kami di Banjarnegara. Melalui festival ini, kami ingin memperkenalkannya kepada masyarakat luas, sekaligus mendukung pariwisata Dieng," pungkasnya.
Editor : Aris S
