Mendiang Kasino Hadiwibowo (istimewa)
Mili.id - Tepat pada 18 Desember 1997 atau 27 tahun yang lalu, pelawak legendaris Kasino Hadiwibowo atau yang lebih dikenal Kasino Warkop DKI, meninggal akibat menderita tumor otak.
Pelawak kelahiran Gombong, Kebumen, Jawa Tengah pada 15 September 1950, dari pasangan Notopramono dan Kasiyem ini meninggal di usia 47 tahun, dan meninggalkan seorang anak perempuan bernama Hanna Sukmaningsih.
Baca juga: Rumah Duka Haerul Saleh Dipenuhi Pelayat dan Karangan Bunga Duka
Suami dari Amarmini juga dikenal sebagai seorang pelawak dan aktor berkebangsaan Indonesia. Ia merupakan salah satu personel dari kelompok lawak Warkop DKI bersama Dono dan Indro.
Kehidupan Kasino Sebelum Dikenal Sebagai Pelawak
Selama masa sekolah, Kasino sering berpindah-pindah tempat tinggal karena mengikuti penempatan ayahnya yang bekerja sebagai pegawai di PNKA (sekarang PT. KAI).Ia sempat tinggal dan bersekolah di Padalarang, Bandung, sampai kelas tiga SD sebelum kemudian pindah ke SD Budi Utomo, Jakarta.
Pendidikan SMP-nya diselesaikan di SMP Negeri 51 Jakarta. Saat memasuki masa SMA, Kasino mengikuti ayahnya yang ditugaskan di Cirebon, sehingga ia bersekolah di SMA Negeri 2 Cirebon sebelum akhirnya kembali ke Jakarta dan menyelesaikan pendidikannya di SMA Negeri 22 Jakarta.
Selama bersekolah, Kasino dikenal sebagai siswa yang sangat tertarik pada pelajaran matematika. Setelah lulus dari SMA, Kasino melanjutkan pendidikannya dengan masuk ke Fakultas Ilmu Sosial, jurusan Ilmu Administrasi Niaga di Universitas Indonesia. Ia menyelesaikan studinya dan lulus sebagai sarjana pada tahun 1978.
Karier Bersama Warkop DKI
Pada tahun 1975, Dono mulai bergabung sebagai pengisi acara, diikuti setahun kemudian oleh Indro. Seiring kedatangan Dono dan Indro, nama acara Omamat berubah menjadi Obrolan Santai di Warung Kopi Prambors yang selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan "Warkop Prambors".
Pada saat itu, acara radio yang mereka isi sudah memiliki banyak penggemar, bahkan mereka diundang untuk tampil di luar kota. Pada tahun 1976, Kasino sempat menjadi pimpinan di sebuah klinik spesialis di Rawamangun, Jakarta Timur, yang dimiliki oleh mertuanya.
Kasino mengelola klinik tersebut selama satu tahun setengah, sebelum memilih mundur karena waktunya lebih banyak tersita oleh kegiatan bersama Warkop Prambors.
Baca juga: Anrez Adelio Bantah Dugaan Kekerasan Seksual, Nyatakan Siap Jalani Tes DNA
Pada tahun 1978, tidak lama setelah lulus kuliah, Kasino dihadapkan pada dua pilihan: bertahan dan melanjutkan karier sebagai pelawak atau mengikuti keinginan orang tuanya untuk menjadi seorang pegawai negeri sipil.
Akhirnya, Kasino memilih untuk melanjutkan kariernya sebagai pelawak. Pada tahun 1979, kelompok Warkop Prambors merilis album kompilasi lawak dan lagu mereka, yang sebenarnya merupakan rekaman dari pertunjukan lapangan di Palembang dan Pontianak.
Setahun kemudian, Warkop merambah layar lebar melalui film pertamanya yang berjudul Mana Tahaaan... Film tersebut mendapatkan kesuksesan yang besar saat masa penayangannya di bioskop.
Selama periode tahun 1980 hingga 1995, kelompok lawak Warkop Prambors yang kemudian berganti nama menjadi Warkop DKI dan telah membintangi 34 film komedi dan satu film dokudrama.
Mereka juga telah mengeluarkan 12 album kompilasi lawak dan lagu, dua di antaranya berkolaborasi dengan kelompok Pancaran Sinar Petromak dan kelompok Srimulat. Pada awal kariernya sebagai aktor, Kasino sering dijuluki "Seki" oleh teman-temannya di tim produksi film karena hidungnya yang dinilai pesek.
Akhir Hayat Kasino
Baca juga: Lapor ATM Hilang, Penyanyi Dangdut Maria Eva Apresiasi Pelayanan Polsek Curahdami
Kesehatan Kasino mulai menunjukkan penurunan pada bulan November 1996. Saat sedang mengisi acara di Lembang, Kasino tiba-tiba jatuh pingsan. Dengan bantuan rekan-rekannya, ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Advent Bandung.
Hasil pemeriksaan rontgen oleh dokter menunjukkan bukti adanya gejala tumor di bagian otak, dan Kasino disarankan untuk menjalani kemoterapi. Anak Kasino, Hanna, mengatakan bahwa tumor yang diderita ayahnya kemungkinan berawal dari insiden kecelakaan saat bersepeda gunung beberapa tahun sebelumnya.
Sebagai akibat dari proses kemoterapi, Kasino terpaksa absen dari serial Warkop DKI, dan alur cerita hanya terfokus pada Dono dan Indro. Pada tahun 1997, kesehatan Kasino naik turun tetapi ia tidak patah semangat.
Ia mencoba tampil kembali dalam serial Warkop DKI dengan mengenakan wig untuk menutupi kebotakan akibat proses kemoterapi di kepalanya. Pada bulan November 1997, kondisi kesehatan Kasino kembali memburuk.
Sehingga, ia harus dirawat intensif di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Setelah hampir satu bulan dirawat, Kasino akhirnya meninggal pada usia 47 tahun pada tanggal 18 Desember 1997, setelah mengidap tumor otak selama satu tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Giritama, Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Editor : Aris S
