Mili.id – Di sebuah sudut Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, lahir seorang anak yang kelak dikenal luas dengan nama K.H. Ali Mas’ud. Masyarakat memanggilnya Mbah Ud. Nama kecilnya Mas’ud, namun karena ia putra seorang kiai pengasuh pesantren, sapaan Gus Ud lebih akrab di telinga warga.
Tahun kelahirannya tak tercatat pasti. Namun, banyak yang meyakini ia lahir sekitar 1908. Ia tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat, di bawah asuhan ayahnya, K.H. Said, pengasuh Pondok Pesantren Sono—salah satu pesantren tertua di Nusantara.
Pesantren Sono, yang diperkirakan berdiri pada 1750-an, didirikan oleh kakeknya, K.H. Zarkasyi bin K.H. Muhayyin. Pada masa jayanya, pesantren ini menjadi magnet bagi para pencari ilmu dari berbagai penjuru Jawa Timur. Ilmu nahwu dan sharaf—yang dikenal sebagai ilmu alat dalam tradisi pesantren—menjadi kekuatan utama yang diajarkan di sana.
Sejumlah ulama besar pernah mengenyam pendidikan di pesantren tersebut. Di antaranya Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan Pesantren Tebuireng; Wahid Hasyim; serta K.H. Abdul Karim atau Mbah Manaf, pendiri Pesantren Lirboyo Kediri. Nama-nama itu menjadi saksi betapa Pesantren Sono pernah berdiri sebagai mercusuar keilmuan Islam di Jawa.
Namun waktu berjalan, dan bangunan asli pesantren itu kini tak lagi berdiri. Jejak fisiknya perlahan hilang ditelan perkembangan zaman. Yang tersisa adalah ingatan dan sanad keilmuan yang terus hidup.
Dari jalur ibu, darah ulama juga mengalir deras dalam diri Mas’ud. Ibunya, Nyai Hj. Fatmah, merupakan keturunan dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa, khususnya Cirebon. Garis nasab itu menjadikan Mas’ud tumbuh dalam tradisi keilmuan sekaligus spiritual yang panjang.
Namun masa remajanya tak sepenuhnya hangat. Pada usia sekitar 16 tahun, ia harus menerima kenyataan pahit: kedua orang tuanya berpisah. Ayahnya tetap di Sono, sementara ibunya menetap di Pagerwojo. Mas’ud memilih tinggal bersama ibunya hingga dewasa.
Di rumah kakaknya, Masrifah, di Pagerwojo, terdapat sebuah kamar sederhana yang kerap menjadi tempat istirahatnya. Dari ruang kecil itulah perjalanan hidup seorang kiai besar ditempa—bukan dengan gemerlap, melainkan kesunyian dan keteguhan.
Gelar kiai disandangnya setelah menunaikan ibadah haji di usia dewasa. Sepulang dari Tanah Suci, namanya bertambah menjadi K.H. Ali Mas’ud. Namun masyarakat tetap memanggilnya dengan penuh hormat sekaligus keakraban: Mbah Ud.
Ia dikenal sebagai sosok bersahaja. Meski berasal dari trah ulama besar dan pesantren legendaris, hidupnya tak dibingkai kemewahan. Ia lebih memilih jalan pengabdian sunyi.
Dalam kehidupan pribadinya, Mbah Ud menjalani lika-liku rumah tangga yang tak sederhana. Ia menikah enam kali dengan lima perempuan berbeda, namun hingga akhir hayatnya tak dikaruniai keturunan.
Saudara-saudaranya memiliki keluarga besar—Masrifah dengan enam anak di Pagerwojo, serta Mahfudz dengan empat anak yang kemudian menetap di Mojoagung, Jombang. Sementara Mbah Ud, garis keturunannya terhenti pada dirinya.
Namun bagi seorang ulama, warisan tak selalu berupa darah dan daging. Ilmu, teladan, dan jejak spiritual sering kali jauh lebih panjang usianya dibanding garis biologis.
Pada 10 Juni 1980, bertepatan dengan 26 Rajab 1401 Hijriah, Mbah Ud wafat di Daleman, Sidoarjo, dalam usia sekitar 72 tahun. Kepergiannya mungkin tak disertai sorotan besar. Tetapi dalam ingatan masyarakat dan jaringan keilmuan pesantren, namanya tetap hidup.
Ia adalah mata rantai dari pesantren tua yang pernah menerangi Nusantara. Sosok yang lahir dari trah ulama, ditempa ujian keluarga, dan menutup hidup tanpa keturunan—namun meninggalkan warisan yang tak kasatmata.
Di tengah riuh zaman modern, kisah Mbah Ud mengingatkan bahwa kejayaan tidak selalu terletak pada bangunan yang megah atau keturunan yang banyak. Kadang ia hadir dalam ketekunan menjaga ilmu, dalam kesetiaan pada tradisi, dan dalam kesunyian yang penuh makna.
Editor : Erwin Muhammad
