BGN Tegaskan Kematian Siswa MIN 2 Bengkulu Utara Bukan Akibat Program MBG

BGN Tegaskan Kematian Siswa MIN 2 Bengkulu Utara Bukan Akibat Program MBG © mili.id

sumber: Website BGN

Mili.id - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, memastikan bahwa wafatnya seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara, Fatih, tidak berkaitan dengan konsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giri Kencana.

Penegasan ini disampaikan menyusul beredarnya informasi yang mengaitkan kematian korban dengan dugaan keracunan makanan dari program tersebut. Nanik menekankan bahwa kabar tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Baca juga: Ratusan Siswa Ikuti Pawai Dukung Program Makan Bergizi Gratis di Batam, Tuai Sorotan

Menurutnya, Fatih belum sempat mengonsumsi menu MBG saat ia pingsan dan kemudian dilarikan ke rumah sakit.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, korban diketahui mengalami pendarahan otak. Temuan itu diperoleh setelah dilakukan pemindaian CT Scan di RS Bhayangkara. Karena membutuhkan penanganan lanjutan berupa operasi bedah saraf, Fatih kemudian dirujuk ke RS Tiara Sella yang memiliki fasilitas memadai.

Sebelumnya, korban sempat mendapatkan pertolongan awal di RS Lagita Ketahun. Namun, rumah sakit tersebut hanya dapat memberikan tindakan kegawatdaruratan lantaran kondisi kesadaran korban sudah menurun dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) 6, yang menunjukkan cedera otak berat dan berisiko mengancam jiwa.

Baca juga: Ribuan Warga Jember Turun ke Jalan, Suarakan Dukungan untuk MBG hingga Sekolah Rakyat

Upaya rujukan sempat terkendala karena sejumlah rumah sakit di Bengkulu hingga Padang dilaporkan penuh, khususnya untuk ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Setelah mendapatkan tempat di RS Bhayangkara dan dilakukan CT Scan, pendarahan otak terkonfirmasi sebelum akhirnya korban dirujuk kembali untuk menjalani operasi. Fatih dinyatakan meninggal dunia sekitar 12 jam pascaoperasi.

Selain klarifikasi medis, BGN juga menyampaikan hasil uji laboratorium dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh sampel makanan MBG negatif dari bakteri E. coli maupun zat berbahaya seperti boraks, formalin, nitrit, arsen, dan sianida.

Baca juga: BGN Hentikan Sementara Program MBG Saat Libur Sekolah, Potensi Hemat Anggaran Rp3 Triliun

Dari sekitar 1.800 siswa penerima manfaat MBG pada hari yang sama, tidak ada laporan gangguan kesehatan serupa. Fatih disebut sebagai satu-satunya kasus, dengan hasil diagnosis medis menunjukkan pendarahan otak, bukan keracunan pangan.

BGN menyampaikan belasungkawa atas kepergian Fatih dan mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi. Pihaknya meminta publik menunggu informasi resmi yang didasarkan pada hasil pemeriksaan medis dan laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan.
 
 

Editor : Redaksi



Berita Terkait