Kehilangan Sosok Ibu, Keluarga Korban Pembunuhan di Mojokerto Masih Diliputi Duka

Kehilangan Sosok Ibu, Keluarga Korban Pembunuhan di Mojokerto Masih Diliputi Duka © mili.id

Foto almarhumah Siti Arofah (54) Kanan, korban pembunuhan tragis yang terjadi di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Mili.id – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga almarhumah Siti Arofah (54), korban pembunuhan tragis yang terjadi di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.
Kepergian Siti bukan hanya meninggalkan luka bagi keluarga, tetapi juga bagi anak-anaknya yang kini harus kehilangan sosok ibu sekaligus tulang punggung keluarga.
Perempuan 54 tahun itu meninggal dunia usai diduga menjadi korban kekerasan yang dilakukan menantunya sendiri, Satuan alias Tuan (42), pada Rabu (6/5/2026). Dalam peristiwa tersebut, pelaku juga menganiaya istrinya, Sri Wahyuni (36).
Adik ipar korban, SA (52), mengaku keluarga tidak pernah menyangka tragedi itu akan terjadi. Menurutnya, almarhumah dikenal sebagai sosok pekerja keras dan penuh pengorbanan bagi keluarganya.
“Sejak suaminya meninggal tahun 2024, beliau yang berjuang sendiri untuk keluarga. Anak-anak sangat kehilangan, terutama anak bungsunya yang masih kelas 3 SMP,” ujarnya saat ditemui di rumah duka, Senin (11/5/2026).
Di mata keluarga, Siti merupakan perempuan sederhana yang selama ini lebih banyak memikirkan kebutuhan anak-anak dan cucunya dibanding dirinya sendiri. Karena itu, kepergiannya secara tragis membuat keluarga terpukul.
Keluarga juga membantah sejumlah tudingan yang disampaikan pelaku terhadap korban. Menurut mereka, keputusan korban menjauhkan pelaku dari rumah bukan tanpa alasan.
SA menyebut, saat itu korban berusaha melindungi keluarganya karena ada perilaku pelaku yang dinilai sudah meresahkan.
Selain itu, persoalan cucu juga disebut menjadi pemicu pertengkaran dalam rumah tangga tersebut. Keluarga menilai anak kecil itu kerap dibawa bekerja mengamen badut demi mendapatkan uang tambahan.
“Masyarakat mungkin hanya melihat luarnya saja. Tapi kami yang tahu bagaimana almarhumah berjuang menjaga keluarganya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Sumbergirang, Siswahyudi, meminta masyarakat tidak mudah menghakimi keluarga korban melalui media sosial. Ia berharap publik bisa lebih bijak karena keluarga saat ini masih dalam suasana berduka.
“Keluarga korban sudah sangat terpukul. Jangan sampai ditambah tekanan dari komentar-komentar yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Baca juga: Fakta Baru, Usai Bercumbu Badut Penjual Mainan di Mojokerto Ngamuk Lihat Chat WA Istri dab PIL

Editor : Redaksi



Berita Terkait