2.568 balon lampion tersebut yang kemudian dilepas secara simbolis oleh PJ Wali Kota Mojokerto M Ali Kuncoro bersama organisasi lintas agama. Foto : (nana/mili.id)
Mojokerto - Puncak Waisak di Kota Mojokerto diwarnai dengan pelepasan ribuan lampion balon berwarna putih yang dihiasi lampu ke langit-langit, Kamis (23/5/2024).
Sebelumnya, acara peribadatan umat Budha ini diawali dengan barongsai dan tarian remo. Serta pemandian rupang Budha kecil oleh biksu dan biksuni.
Baca juga: Gelap Gulita, Pria 65 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa di Lapangan Surodinawan Mojokerto
Lalu saat detik-detik puncak Waisak pada pukul 20.52 WIB, Biksu Bante Vihara Buddhayana Mojokerto mengajak umat Budha dan masyarakat umum bermeditasi dalam hening bersama-sama.
Usai pelaksanaan meditasi yang diakhiri dengan pembacaan doa oleh 7 pemuka agama, kemudian 2.568 balon lampion tersebut dilepas dengan awali oleh PJ Wali Kota Mojokerto M Ali Kuncoro bersama organisasi lintas agama.
Mas Pj sapaan akrab Ali Kuncoro menjelaskan, festival lampion balon ini kali pertama digelar di Kota Onde-onde untuk memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak.
Event tersebut diharapkan menjadi agenda rutin, dan bisa menarik wisatawan untuk datang ke Kota Mojokerto.
"Ketika event ini menjadi agenda tahunan, Kota Mojokerto tidak hanya dikenal, namun orang mau datang ke sini," ujarnya.
Detik-detik puncak Waisak pada pukul 20.52 WIB, Biksu Bante Vihara Buddhayana Mojokerto mengajak umat Budha dan masyarakat umum bermeditasi dalam hening bersama-sama. Foto : (nana/mili.id)
Ali melanjutkan, kedatangan wisatawan dapat meningkatkan perekonomian di Kota Mojokerto. Mulai dari UMKM hingga perhotelan akan ikut merasakan, jika wisatawan berdatangan.
Baca juga: Pemkot Mojokerto Gandeng 30 Penyedia Makan Minum, Harga Nasi Kotak Ditetapkan Lewat Kontrak Payung
"Ketika wisatawan datang ke sini, otomatis UMKM bisa tumbuh, hunian hotel juga meningkat. Semua happy semua punya cuan," lanjutnya.
Kegiatan yang melibatkan berbagai elemen yang ada di Kota Mojokerto, lanjut Ali, diharapkan menjadi kota yang moderasi beragamanya bisa menampung seluruh agama. Selain itu, diharapkan semua agama bisa beribadah dengan baik.
"Kita terinspirasi di Magelang, Jawa Tengah yang satu-satunya sampai hari ini melaksanakan. Dan kita berupaya dengan format lain, tidak lampion tapi balon. Terus jaga keharmonisan, terus jaga kedamaian, jaga persatuan, tidak boleh ada yang terkotak-kotak,” pungkasnya.
Editor : Aris S
