Ilustrasi/iStock-Toa55
mili.id - Malam 1 Suro punya makna tersendiri bagi masyarakat Jawa. Malam yang diperingati saat matahari terbenam sebelum masuk tanggal satu Suro atau satu Muharram dalam penanggalan Islam.
Pada malam peringatan tersebut, masyarakat Indonesia khususnya di Pulau Jawa, kerap mengisi dengan berbagai ritual. Bahkan ada aturan di dalam masyarakat Jawa zaman dulu untuk tidak keluar rumah, kecuali untuk keperluan berdoa.
Baca juga: Suroboyo 10K 2026 Dibanjiri Ribuan Pelari, Hotel dan Kuliner Surabaya Ikut Terdongkrak
Ada tiga tradisi yang dilakukan sejak zaman dahulu hingga saat ini, dalam memperingati malam satu Suro, yakni bertapa, berendam dan tirakat. Biasanya, tiga hal itu dilakukan di tempat yang dianggap keramat.
Berikut 6 ritual malam 1 suro di Jatim:
1. Petirtaan Jolotundo, Candi Belahan
Petirtaan Jolotundo atau Candi Jolotundo berlokasi di Desa Wonosunyo, Pasuruan. Tempat ini merupakan pemandian yang merupakan cikal bakal adanya Candi Belahan.
Candi Belahan ini dibangun untuk menyambut kelahiran Airlangga pada 997 Masehi. Hal itu berdasarkan prasasti yang terdapat di sekitar situs. Candi Belahan merupakan cagar budaya peninggalan Kerajaan Airlangga.
Sementara Petirtaan Jolotundo dibangun sebagai tempat pertapaan Prabu Airlangga beserta dua permaisurinya, Dewi Laksmi dan Dewi Sri.
Setiap malam satu Suro, lokasi ini menjadi salah satu tempat ritual kungkum atau berendam, dan mencuci benda pusaka. Mata airnya yang jernih mengucur dari patung dua permaisuri melalui payudaranya.
2. Gunung Kawi
Gunung Kawi terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Di sana, terdapat dua pesarean (pemakaman) keramat, yaitu makam Kyai Zakaria dan Iman Soedjono.
Kyai Zakaria ini dikenal dengan sebutan Eyang Junggo. Konon, Kyai Zakaria dan Iman Soedjono dikenal sebagai sesepuh pertama di Gunung Kawi.
Saat malam satu suro, salah satu ritual yang dilakukan di Gunung Kawi adalah berdoa melalui kirab budaya yang atraktif. Ritual tersebut dilakukan sebagai bentuk mengenang jasa-jasa kedua leluhur tersebut.
Baca juga: Kucurkan Rp71 Miliar untuk Beasiswa Pemuda Tangguh, Pemkot Surabaya Tambah 24.000 Kuota Tahun 2026
3. Stupa Sumberawan, Candi Singosari
Stupa Sumberawan yang berada di Candi Singosari menjadi salah satu lokasi yang kerap digunakan untuk ritual malam satu suro.
Candi yang berada di Malang, Jawa Timur, ini dijadikan beragam ritual malam satu suro, mulai dari ruwatan hingga suguhan nitiputut.
Ruwatan difungsikan sebagai media untuk meluruhkan penyakit hati. Sementara suguhan nitiputut adalah memanggil arwah untuk masuk ke dalam boneka Jawa.
4. Air Terjun Sedudo, Nganjuk
Air terjun yang terletak di desa Ngliman, Sawahan, Nganjuk, ini dipercaya berasal dari tempat keramat, yakni tempat bersemayamnya para dewa.
Sehingga saat malam satu Suro, banyak masyarakat yang mendatangi air terjun Sedudo untuk mengambil airnya. Tujuannya untuk mencari keberkahan, kesehatan, kesucian, hingga keabadian. Air tersebut juga digunakan untuk ritual memandikan pusaka.
Baca juga: Ternyata Pencipta Kutang Seorang Pria, Begini Sejarahnya
5. Alas Purwo, Banyuwangi
Alas Purwo, Banyuwangi, biasanya ramai masyarakat yang berkunjung ke sini. Pada peringatan satu Suro, banyak masyarakat hendak mengikuti ritual yang ada di sana, mulai dari semedi, tapa barata, nyadran, hingga aktivitas lain.
Biasanya, pada malam keramat itu ada pertunjukan wayang kulit yang digelar semalam suntuk. Beberapa ritual atau acara tersebut dilakukan pada beberapa titik, yakni Gua Pancur, Gua Istana, Kucur, hingga Makam Mbah Dowo.
6. Petilasan Sri Adji Djoyoboyo, Kediri
Petilasan Sri Adji Djoyoboyo tepatnya berada di Kecamatan Pagu. Tradisi Suroan di sini akan dilakukan dengan membakar sesajen yang diikuti dengan lantunan doa yang ada di Sendang Tirto Kamandanu.
Selanjutnya, di pagi hari akan diadakan arak-arakan yang menuju ke Petilasan Sri Adji Djoyoboyo. Dalam arak-arakan tersebut para pemuda akan membawa pusaka dengan para gadis berpakaian tradisional.
Editor : Narendra Bakrie
