Ilustrasi
Mili.id - 20 Juli, 199 tahun yang lalu tepatnya di tahun 1825, di tanah Jawa terjadi pertempuran hebat dengan sebutan Perang Diponegoro melawan bangsa kolonial Belanda. Perang itu berlangsung lima tahun lamanya, sejak 1825-1830.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa bahkan disebut sebagai salah satu perang besar selama Belanda menduduki Indonesia. Pasalnya, akibat perang ini ratusan ribu rakyat Jawa dan puluhan ribu serdadu Belanda, dikabarkan tewas.
(Latar Belakang Perang Diponegoro)
Perang Diponegoro ini dilatarbelakangi atas geramnya Pangeran Diponegoro terhadap Belanda, yang dianggap terlalu ikut campur terhadap urusan politik Keraton Yogyakarta kala itu.
Pihak keraton yang tidak berdaya akan pengaruh politik pemerintahan kolonial, justru hidup mewah-mewahan dan tidak mempedulikan rakyatnya yang menderita.
Selain itu, sebab khusus dari Perang Diponegoro adalah pemasangan tonggak-tonggak untuk membuat rel kereta api yang melewati makam dari leluhur Pangeran Diponegoro.
Sejak saat itu, Pangeran Diponegoro secara gamblang menampilkan sikap ketidaksukaannya terhadap Belanda, tonggak yang dipasang Belanda untuk membuat rel melewati makam leluhurnya itu ia bongkar.
Atas kejadian tersebut Belanda menganggapnya sebagai pemberontak dan berupaya untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Adanya upaya Belanda tersebut membuat Pangeran Diponegoro pergi meninggalkan keraton dan menetap di Tegalrejo.
(Kronologi Perang Diponegoro)
Pangeran Diponegoro memimpin secara langsung peperangan pribumi, sementara tentara Belanda dipimpin oleh Jenderal De Kock.
Dalam menghadapi perang ini, Pangeran Diponegoro dibantu oleh beberapa pejuang seperti Mangkubumi, Kyai Modjo, dan Sentot Prawirodirdjo.
Perang Diponegoro diawali pada 20 juli 1825 dengan penangkapan Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi oleh utusan Belanda di Tegalrejo.
Saat itu, Pangeran Diponegoro berhasil melarikan diri. Tiga minggu kemudian, Pangeran Diponegoro yang dibantu oleh Kyai Mojo, melakukan penyerangan terhadap Belanda dan berhasil menduduki Keraton Jogja dan memperluas kedudukannya ke arah timur.
Pada tahun 1827, pasukan Belanda mengerahkan 23 ribu prajuritnya untuk melawan Pangeran Diponegoro. Belanda membangun benteng-benteng di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, untuk memojokkan kubu Pangeran Diponegoro.
Pada tahun 1829, Kyai Mojo akhirnya ditangkap dan diikuti dengan penangkapan Mangkubumi dan Alisabah, pada tanggal 16 Februari 1830 terjadi pertemuan antara Pangeran Diponegoro dengan Kolonel Baptist Cleerens sebagai utusan Jendral De Kock, pertemuan itu dilakukan beberapa kali untuk mengadakan gencatan senjata.
Pada 28 Maret 1830, pasukan Belanda menangkap Pangeran Diponegoro, penangkapan tersebut menjadi akhir dari Perang Diponegoro. Setelah ditangkap Pangeran Diponegoro diasingkan di Gedung Karesidenan Semarang dan dibawa ke Batavia. Pangeran Diponegoro wafat saat dipindahkan ke Makassar di Benteng Rotterdam pada 8 Januari 1855.
Editor : Achmad S
