Khofifah saat sidak pasar di pasar Madiun/Foto:humas PROV jatim
Mili.id - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau harga daging sapi di pasar besar, Kota Madiun, yang merupakan satu dari dua puluh enam sampling Badan Pusat Statistik, Sabtu (26/2).
Harga daging sapi pasar tersebut, relatif stabil dan tidak mengalami kenaikan. Yakni seharga Rp 110.000 per kg. Sedangkan daging dengan kualitas standar bervariasi. Mulai Rp 70 ribu sampai 100 ribu.
Baca juga: Khofifah Buka Koperasi Explore, Perkuat Ekonomi Kerakyatan dan Promosi UMKM
"Sudah seminggu kita mendengar harga daging sapi di beberapa wilayah DKI Jakarta, Banten dan sebagian Jawa Barat mengalami kenaikan. Namun, teman-teman melihat bahwa harga daging sapi di Jawa Timur terpantau normal karena suplai daging ke penjual stabil sehingga tidak mempengaruhi harga konsumen," kata Khofifah
Khofifah menyampaikan terdapat 26 pasar di Jatim yang menjadi sampling Badan Pusat Statistik (BPS). Khusus di Kota Madiun ada dua pasar yang menjadi sampling BPS yaitu Pasar Besar dan Pasar Seleko Madiun. Karenanya, kata dia, melakukan monitoring pergerakan supply dan demand di pasar-pasar sampling BPS menjadi sangat penting.
Baca juga: Khofifah Tinjau Sekolah Rakyat Terintegrasi Terluas Nasional di Sampang
Di samping itu, Khofifah juga memantau keberadaan tempe yang dua minggu terahir sempat menghilang karena kelangkaan kedelai, yang mana tidak ada perubahan stock maupun harga, hanya ukurannya yang disesuaikan karena harga tidak dinaikkan.
"Jadi tinggi sekali populasi sapi potong di Jatim. Sehingga saya ingin pastikan bahwa di Pasar Besar Madiun yang menjadi sampling BPS meliputi harga daging sapi, suplai sampai dengan harga di konsumen stabil," tuturnya.
Baca juga: Khofifah Gelar Pasar Murah Perkuat Daya Beli Masyarakat Pamekasan
Khofifah juga menyampaikan masalah ketersediaan minyak goreng. Meski di beberapa pasar sudah dikirim minyak goreng curah, tetapi harus keberlanjutan agar alur suplai tersedia aman.Ia melihat, suplai minyak curah hanya cukup dijual 2 sampai 3 hari. Artinya, masih ada pekerjaan rumah untuk menstabilkan distribusi minyak goreng.
"Jadi apa yang kita lakukan untuk bisa melakukan pemenuhan kebutuhan masyarakat terutama menjelang puasa harus kita intervensi secara komprehensif," jelasnya.
Editor : Redaksi
