Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
mili.id - Besok tepat pada tanggal 30 Desember sejarah mencatat peristiwa besar tentang presiden diberbagi belahan dunia, dan salah satunya Presiden Indonesia.
Berikut adalah beberapa peristiwa penting yang terjadi pada tanggal 30 Desember:
Baca juga: Prabowo Pimpin Panen Raya TNI, Khofifah: Jawa Timur Pilar Ketahanan Pangan Nasional
1965: Ferdinand Marcos dilantik sebagai Presiden Filipina.
Ferdinand Marcos dilantik sebagai Presiden Filipina pada tanggal 30 Desember 1965. Ia menjadi presiden ke-10 negara tersebut setelah memenangkan pemilihan presiden. Pelantikannya menandai awal dari dua dekade pemerintahan yang penuh kontroversi.
Pada masa pemerintahannya, Marcos awalnya dikenal karena kebijakan pembangunan ekonomi dan infrastruktur yang ambisius, seperti pembangunan jalan raya, jembatan, dan gedung-gedung publik.
Namun, pemerintahannya kemudian dicemari oleh tuduhan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan pelanggaran hak asasi manusia, terutama setelah ia memberlakukan darurat militer pada tahun 1972.
Darurat militer memungkinkan Marcos untuk memerintah dengan kekuasaan hampir absolut, menekan oposisi politik, dan memperpanjang masa jabatannya di luar batas yang ditentukan konstitusi.
Pemerintahannya berakhir pada tahun 1986 setelah Revolusi EDSA (People Power Revolution), yang memaksanya dan keluarganya untuk meninggalkan Filipina.
1972: Presiden Amerika Serikat Richard Nixon menghentikan pengeboman di Vietnam Utara dan mengumumkan proses perdamaian.
Pada tanggal 30 Desember 1972, Presiden Amerika Serikat Richard Nixon mengumumkan penghentian pengeboman besar-besaran di Vietnam Utara, yang dikenal sebagai Operasi Linebacker II.
Ini adalah salah satu kampanye udara paling intensif selama Perang Vietnam, berlangsung selama sebelas hari pada Desember 1972. Tujuannya adalah untuk menekan Vietnam Utara agar kembali ke meja perundingan dalam upaya menyelesaikan konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Penghentian pengeboman ini menjadi titik balik dalam upaya mencapai perdamaian. Nixon mengumumkan bahwa negosiasi perdamaian akan dilanjutkan di Paris.
Hal ini membuka jalan bagi Perjanjian Perdamaian Paris yang akhirnya ditandatangani pada 27 Januari 1973. Perjanjian ini mengatur penarikan pasukan AS dari Vietnam dan menjadi langkah penting menuju berakhirnya keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam perang.
Meskipun langkah Nixon membawa harapan untuk perdamaian, Perang Vietnam tetap berlanjut di antara pihak-pihak lokal hingga 1975, ketika Vietnam Utara berhasil menguasai Saigon, menandai berakhirnya perang dengan penyatuan Vietnam di bawah pemerintahan komunis.
1987: Perdana Menteri Robert Mugabe terpilih menjadi Presiden Zimbabwe.
Pada tanggal 30 Desember 1987, Robert Mugabe secara resmi terpilih sebagai Presiden Zimbabwe. Sebelumnya, Mugabe telah menjabat sebagai Perdana Menteri sejak negara itu memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1980.
Peralihan dari posisi Perdana Menteri ke Presiden terjadi setelah Zimbabwe mengubah konstitusinya, menciptakan jabatan Presiden Eksekutif dengan kekuasaan yang lebih besar.
Sebagai Presiden, Mugabe memusatkan kekuasaan di tangannya, mengonsolidasikan kontrol atas politik dan militer negara. Masa kepemimpinannya ditandai oleh program reformasi tanah yang kontroversial, yang bertujuan untuk mendistribusikan kembali lahan dari minoritas kulit putih ke mayoritas kulit hitam.
Namun, implementasi program tersebut sering disertai dengan kekerasan dan tuduhan korupsi, yang berdampak buruk pada perekonomian negara.
Selama masa pemerintahannya yang panjang, Mugabe menghadapi kritik internasional atas pelanggaran hak asasi manusia, pemilu yang tidak bebas dan adil, serta penurunan drastis ekonomi Zimbabwe, yang menyebabkan hiperinflasi parah. Kepemimpinannya berlangsung hingga 2017, ketika ia dipaksa mengundurkan diri setelah kudeta militer.
Robert Mugabe tetap menjadi salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Afrika modern, dikenang sebagai pahlawan kemerdekaan tetapi juga sebagai pemimpin yang otoriter.
2006: Saddam Hussein, mantan Presiden Irak, dieksekusi dengan cara digantung di kompleks militer Irak.
Pada tanggal 30 Desember 2006, Saddam Hussein, mantan Presiden Irak, dieksekusi dengan cara digantung. Eksekusi ini dilakukan di sebuah kompleks militer di Baghdad pada subuh, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.
Saddam Hussein dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Khusus Irak setelah dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan, khususnya terkait pembunuhan 148 warga Syiah di Dujail pada tahun 1982.
Peristiwa ini terjadi setelah upaya pembunuhan yang gagal terhadap Saddam di kota tersebut. Hukuman mati ini merupakan salah satu bagian dari pertanggungjawaban atas pelanggaran hak asasi manusia dan kekejaman selama 24 tahun masa pemerintahannya.
Eksekusi Saddam berlangsung di bawah pengawasan ketat pemerintah Irak dengan kehadiran beberapa pejabat dan saksi.
Namun, video amatir eksekusi tersebut bocor ke publik, menimbulkan kontroversi dan kritik karena menunjukkan momen-momen terakhir Saddam yang disertai ejekan dari beberapa saksi.
Eksekusi ini menandai babak baru dalam sejarah Irak setelah kejatuhan rezim Saddam oleh invasi Amerika Serikat pada tahun 2003.
Meski dianggap sebagai akhir dari salah satu rezim paling otoriter di Timur Tengah, banyak pihak menilai eksekusi Saddam tidak berhasil membawa stabilitas bagi Irak, yang terus dilanda konflik sektarian dan kekacauan politik.
2009: Presiden ke-4 Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, wafat pada usia 69 tahun.
Baca juga: Jampidsus Febrie Adriansyah Masih Misterius, Presiden Sudah Beri Interuksi?
Pada tanggal 30 Desember 2009, Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, Presiden ke-4 Indonesia, wafat pada usia 69 tahun di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Gus Dur meninggal dunia akibat komplikasi penyakit yang meliputi diabetes, gangguan ginjal, dan gangguan jantung.
Gus Dur adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Indonesia, dikenal sebagai pemimpin yang pluralis, pemikir yang visioner, dan tokoh yang berani mengambil sikap tegas dalam memperjuangkan demokrasi, hak asasi manusia, dan keadilan sosial. Ia menjabat sebagai Presiden Indonesia dari tahun 1999 hingga 2001, dalam masa transisi demokrasi pasca-Orde Baru.
Selama kepemimpinannya, Gus Dur dikenal dengan kebijakan-kebijakan yang kontroversial namun mendasar, seperti:
Menghapuskan dwifungsi ABRI, memisahkan fungsi militer dan kepolisian.
Memperjuangkan kebebasan beragama, termasuk memberikan pengakuan terhadap Konghucu sebagai agama resmi di Indonesia.
Menekankan rekonsiliasi nasional untuk mengatasi ketegangan pasca-reformasi.
Meskipun masa pemerintahannya singkat karena dilengserkan melalui Sidang Istimewa MPR, Gus Dur tetap dikenang sebagai "Bapak Pluralisme Indonesia."
Sikap dan pemikirannya telah menginspirasi banyak orang, terutama dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi dan keberagaman.
Wafatnya Gus Dur membawa duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Ribuan orang dari berbagai latar belakang menghadiri pemakamannya di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Hingga kini, Gus Dur dikenang sebagai tokoh bangsa yang luar biasa, dengan semangat humor, intelektualitas, dan kebijaksanaan yang tetap hidup di hati masyarakat.
Editor : Aris S
