Ilustrasi
mili.id - Tepat pada 20 Februari 1979 atau 46 tahun lalu, gas beracun dari Kawah Sinila di dataran tinggi Dieng pernah menewaskan 149 jiwa. Tragedi ini tercatat sebagai salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah yang diakibatkan oleh keluarnya gas beracun.
Kawah yang berada di Telaga Sinila berada di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Setidaknya, Dieng memiliki delapan kawah aktif.
Kawah aktif tersebut diantaranya Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Kawah Sibanteng, Kawah Siglagah, Kawah Sinila, Kawah Sikidang, Kawah Timbang, dan Kawah Sikendang.
Letusan di Tahun 1979 Disusul Keluarnya Gas Beracun
Kawah Sinila memiliki diameter kurang lebih 100 meter dan merupakan sebuah bekas letusan gunung berapi. Kawah ini pernah membawa petaka saat meletus pada sekitar tahun 1979. Tragedi tersebut memakan 149 korban jiwa setelah menghirup gas beracun.
Sebelum erupsi terjadi, Kawah Sinila tidak ada tanda kenaikan temperatur serta tremor atau getaran. Tiba-tiba, letusan terjadi pada 20 Februari 1979 tengah malam pukul 01.55 WIB. Saat itu terdengar suara ledakan yang berasal dari Kawah Sinila disertai gempa bumi.
Warga Desa Kepucukan yang diketahui paling dekat dengan kawah tersebut terbangun dari tidurnya dan panik berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Saat itu, udara panas dan bau belerang sangat terasa. Tak lama berselang, hujan abu pun datang menyelimuti desa tersebut.
Kala itu, Desa Kepucukan dikepung oleh aliran lahar. Banyak warga menyelamatkan diri dengan berlari menuju bukit dan menyaksikan desa merea hilang tertutup lahar. Sementara warga yang tidak bisa menyelematkan diri, mereka dipastikan tewas menghirup gas beracun.
Berdasar laporan saat itu, kondisi jasad korban banyak ditemukan tergeletak di jalanan. Dikatakan sejumlah warga, bahwa jasad tersebut sudah tidak seperti mayat, karena hancur ketika dipegang.
Pasca Tragedi Kawah Sinila, Desa Kepucukan Lenyap dari Peta
Menurut laporan BPBD Jateng saat itu, tragedi letusan Kawah Sinila pada 1979 ini menyebabkan jatuhnya korban meninggal dunia sebanyak 149 jiwa, sementara 15.000 jiwa dari 6 desa di Dieng harus diungsikan. Gas beracun akibat letusan tersebut diketahui masih terdeteksi hingga sebulan setelahnya.
Setelah tragedi tersebut, nama Desa Kepucukan tidak lagi bisa ditemukan di peta karena telah dihapus secara administratif. Desa tersebut dinyatakan tidak layak huni akibat adanya gas beracun di kawasan tersebut. Sehingga, wilayah ini tidak layak huni dan berbahaya bagi masyarakat.
Gas Beracun Kawah Sinila Masih Keluar Hingga Saat Ini
Setelah tragedi itu, pada tahun 2023 gas beracun masih tercatat keluar beberapa kali hingga menjangkau luar area kawah, namun tidak sampai memakan korban jiwa. Sementara di tahun 2011, luncuran gas beracun pernah tercatat hingga sekitar 350 meter dari bibir kawah.
Hal serupa kembali terjadi pada 2013, luncuran gas beracun saat itu mencapai 2.000 meter dari bibir kawah, namun luncuran gas beracun pada 2013 juga tidak menimbulkan korban jiwa.
Kini Gunung Api Dieng masih berstatus waspada. Warga dilarang mendekat ke area Kawah Timbang. Hingga saat ini, luncuran gas beracun juga masih ada dengan jarak luncuran 150 meter di sekitar kawah.
Sehingga, masyarakat atau petani diimbau agar tidak mendekat ke Kawah Sinila dengan jarak aman saat ini adalah 500 meter dari bibir kawah.
Baca juga: Perbaiki Jalur Ngawi-Blora Swadaya Berujung Jeruji, Sekdes : Tak Ada Penebangan Hutan UGM
Editor : Achmad S
