10 April 210 Tahun Lalu, Iklim Dunia Kacau Akibat Letusan Gunung Tambora

10 April 210 Tahun Lalu, Iklim Dunia Kacau Akibat Letusan Gunung Tambora © mili.id

Gunung Tambora dilihat dari satelit (Foto: iStock)

Surabaya, mili.id - 10 April 1815 atau 210 tahun lalu, iklim dunia kacau akibat letusan Gunung Tambora Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Letusan gunung berapi ini disebut-sebut paling kuat dalam sejarah modern, dan diklasifikasikan sebagai peristiwa dengan Indeks Daya Ledak Vulkanik VEI-7. Letusan ini tercatat empat kali lebih kuat daripada letusan Gunung Krakatau Tahun 1883.

Baca juga: 8 Februari 42 Tahun Lalu Olga Syahputra Dilahirkan, Begini Perjalanan Hidupnya

Setahun setelah Gunung Tambora meletus, bumbungan letusannya menurunkan suhu global. Saat itu, dunia mengalami pendinginan global dan kegagalan panen di seluruh dunia dan dikenal sebagai tahun tanpa musim panas.

Rangkaian Peristiwa Letusan Gunung Tambora

Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad sebelum Tahun 1815, dan dikenal dengan nama gunung berapi "tidur", yang merupakan hasil dari pendinginan hydrous magma di dalam dapur magma yang tertutup.

Dalam dapur magma di kedalaman sekitar 1,5-4,5 kilometer, larutan padat dari cairan magma bertekanan tinggi terbentuk pada saat pendinginan dan kristalisasi magma. Tekanan di kamar makma sekitar 4-5 kbar muncul dan temperatur sebesar 700 °C-850 °C.

Pada Tahun 1812, kaldera Gunung Tambora mulai bergemuruh dan menghasilkan awan hitam. Pada tanggal 5 April 1815, letusan terjadi diikuti dengan suara gemuruh yang terdengar hingga di Makassar, Sulawesi, Jakarta dan Ternate di Maluku.

Suara gemuruh ini juga terdengar sampai ke Pulau Sumatera pada tanggal 10-11 April 1815 yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan.

Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan suara gemuruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.

Pada pukul 19.00 tanggal 10 April 1815, letusan gunung ini semakin kuat. Tiga lajur api terpancar dan bergabung hingga Gunung Tambora terlihat berubah menjadi aliran besar magma dari kejauhan.

Bebatuan dengan diameter 20 sentimeter mulai menghujani wilayah sekitar pada pukul 20.00, diikuti dengan abu pada. Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora.

Baca juga: 29 Januari 75 Tahun Lalu, Panglima Besar Jenderal Soedirman Wafat

Ledakan besar terdengar sampai sore tanggal 11 April 1815. Abu vulkanik laku menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bau nitrat bahkan tercium di Jakarta dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh dan baru reda pada 17 April 1815.

Awan dengan abu tebal masih menyelimuti puncak Gunung Tambora hingga tanggal 23 April 1815. Ledakan berhenti pada tanggal 15 Juli 1815, walaupun emisi asap masih terlihat pada tanggal 23 Agustus 1815.

Dampak Letusan Gunung Tambora

Saking dahsyatnya letusan Gunung Tambora bahkan sampai terdengar ratusan kilometer jauhnya hingga negara lain turut merasakan dampaknya.

Di Indonesia sendiri, tsunami setinggi 2-4 meter menyerang beberapa pesisir pantai di Indonesia, seperti di wilayah Jawa Timur dan Maluku pasca gunung tersebut meletus di tanggal 10 April 1815.

Baca juga: 21 Januari 40 Tahun Lalu, Candi Borobudur Dibom Teroris

Puluhan ribu orang di beberapa wilayah Indonesia dilaporkan berbagai sumber tewas, karena menderita berbagai penyakit hingga kelaparan, setelah gunung tersebut meletus hingga memengaruhi iklim dunia.

Negara lain yang turut terdampak ialah Inggris. Angin bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat terjadinya fenomena matahari terbenam. Saat itu, di London, Inggris terlihat seperti senja antara tanggal 28 Juni dan 2 Juli 1815 dan 3 September dan 7 Oktober 1815.

Terparah, efek dari letusan gunung ini juga mempengaruhi iklim di seluruh dunia karena banyaknya abu yang terlempar ke atmosfer dan membuat suhu global berkurang di Tahun 1816.

Sebagian dunia, khususnya di Eropa Barat dan Amerika Utara bagian timur mengalami periode salju lebat secara sporadis dan membekukan embun selama bulan Juni hingga Agustus.

Peristiwa cuaca dingin itu menyebabkan gagal panen dan kelaparan di wilayah tersebut, hingga tahun 1816 disebut sebagai 'tahun tanpa musim panas'.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait