Kadinkes Jatim Sebut Ada 9.437 Kasus DBD di Januari-April 2025: Waspada, Masifkan PSN

Kadinkes Jatim Sebut Ada 9.437 Kasus DBD di Januari-April 2025: Waspada, Masifkan PSN © mili.id

Kadinkes Jatim, Prof. Dr. dr. Erwin Astha Triyono (Foto: Dok. Dinkes Jatim)

Surabaya, mili.id - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Kadinkes Jatim), Prof. Dr. dr. Erwin Astha Triyono mengimbau masyarakat untuk tetap memasifkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) guna mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Prof. Erwin meminta masyarakat lebih waspada melalui Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik, minimal satu minggu sekali.

Baca juga: Jelang Muktamar NU ke-35, ISHARI gelari KHA Wahab Hasbullah sebagai “Bapak ISHARI”

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jatim per 14 Mei 2025, jumlah kasus DBD pada Januari-April 2025 sebanyak 9.437 kasus dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,57%.

Jumlah kasus tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah kasus per April 2024 yaitu sebanyak 14.634 kasus.

"Walaupun trennya menurun, kita harus tetap waspada dan mengantisipasi kenaikan kasus DBD, karena DBD ini menyerang di semua kelompok umur, dewasa hingga anak-anak dengan tingkat kematian tertinggi terjadi pada anak," ungkap Prof. Erwin tertulis, Selasa (20/5/2025).

Dia menegaskan bahwa dengan terus memasifkan gerakan PSN, harapannya peran serta dan pemberdayaan masyarakat untuk memberantas DBD bisa ditingkatkan.

Perannya bisa dengan melakukan pemeriksaan, pemantauan, pemberantasan jentik nyamuk DBD yang jadi sumber penyebaran utama dengan melibatkan seluruh anggota keluarga.

Prof. Erwin melanjutkan, kegiatan PSN dapat dilakukan dengan 3M Plus, yaitu pertama dengan menguras atau membersihkan tempat penampung air seperti bak mandi, vas bunga, tempat minum binatang peliharaan, tatakan dispenser. Yang kedua dengan menutup rapat Tempat Penampungan Air (TPA).

Sebagai informasi, vektor penyebab infeksi dengue adalah nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, di mana karakteristik perindukan telur-jentik-pupa aedes adalah di tempat bermuatan air jernih yang dindingnya tidak bersentuhan langsung dengan tanah.

Jika TPA tidak memungkinkan dikuras atau ditutup, maka bisa diberikan larvasida.

"Langkah ketiga adalah menyingkirkan atau memanfaatkan serta mendaur ulang barang bekas seperti ban bekas, botol plastik, kaleng bekas. Dan, Plus yang paling penting adalah menghindari gigitan nyamuk," terang dia.

Prof. Erwin menambahkan, untuk menghindari gigitan nyamuk bisa dengan memakai kelambu, anti nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik, menaburkan larvasida, dan memasang perangkap telur (ovitrap), perangkap jentik (larvitrap) dan perangkap nyamuk (mosquitotrap).

Baca juga: Khofifah Lantik IKA UNAIR Bali, Ajak Alumni Perkuat Ekonomi Daerah

Bisa pula dengan mengolah tanaman pengusir nyamuk seperti sereh hingga zodia.

Selain Sosialisasi PSN 3M Plus, upaya lain yang juga populer di masyarakat adalah teknik fogging atau pengasapan. Fogging bertujuan untuk membunuh nyamuk dewasa yang dilakukan saat terjadi penularan di suatu daerah.

Prof. Erwin juga mengingatkan bahwa fogging bukan merupakan langkah utama dalam memberantas nyamuk. Pelaksanaan fogging harus dilakukan sejalan dengan PSN secara rutin di suatu lingkungan guna hasil yang efektif dan maksimal.

Dia menekankan bahwa upaya pemberantasan DBD tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan peran serta seluruh masyarakat yang juga berkolaborasi dengan RT/RW, TP-PKK hingga Karang Taruna untuk menggalakkan Gerakan PSN hingga ke rumah-rumah.

"Maka dari itu, ayo kita jaga terus kebersihan diri dan lingkungan. Lindungi diri kita, lindungi keluarga kita, lindungi sekitar kita," pintanya.

Sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit DBD, Pemprov Jatim telah melakukan berbagai upaya. Di antaranya dengan mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor: 440/6277/012/2024 tentang Kesiapsiagaan Peningkatan Kasus dan Kematian Akibat Penyakit Infeksi Dengue (DBD).

Baca juga: Gion Spa Diduga Masih Beroperasi Meski Belum Kantongi Rekomendasi, Publik Tunggu Sikap Tegas Pemerintah

Dinkes Jatim juga telah membuat Surat Edaran Nomor: 400.7/16383/102.3/2024 tentang Kewaspadaan Penyakit Musim Hujan untuk disampaikan kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan daerah di wilayah Jawa Timur.

"Kami juga telah melakukan KIE dan promosi kesehatan terntang penyakit DBD melalui media sosial, melaksanakan webinar DBD dengan sasaran TP PKK, ormas dan SBH serta rapat koordinasi dengan lintas program, lintas sektor dan Dinkes kab/kota dalam pengendalian DBD di Jatim," sambung Prof. Erwin.

Prof. Erwin kembali mengingatkan bahwa perilaku nyamuk aedes adalah menggigit di pagi dan sore hari.

Namun dengan perubahan iklim yang terjadi saat ini, sangat dimungkinkan terjadi perubahan waktu menggigitnya juga. Jadi kewaspadaan terhadap DBD harus ditingkatkan.

Pihaknya juga berpesan jika ada anggota keluarga yang mengalami demam tinggi yang mendadak, terus menerus, berlangsung 2-7 hari segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

"Ancaman terjadi syok dan perdarahan terkadang muncul pada hari ketiga hingga kelima saat demam sudah turun. Jika ada segera periksakan anggota keluarga yang memiliki gejala DBD. Semakin cepat pertolongan akan semakin baik. Terapi DBD yang terbaik saat ini adalah terapi cairan yang cukup dan monitoring ketat klinis dan laboratorium pasien di faskes," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait