Data WHO 720.000 orang Pertahun Meninggal Bundir, SSU:Ubah Narasi, Selamatkan Harapan

Data WHO 720.000 orang Pertahun Meninggal Bundir, SSU:Ubah Narasi, Selamatkan Harapan © mili.id

Penyuluhan Pencegahan Bunuh Diri di Poli Jiwa RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya dalam rangka Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 10 September 2025.

Surabaya, mili.id - Komunitas Surabaya Suicide Update (SSU) menggelar kampanye bertajuk Pekan Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2025 dengan mengusung tema global “Ubah Narasi terkait Bunuh Diri”. Keiatan ini diinisiasi oleh International Association for Suicide Prevention (IASP) dan World Health Organization (WHO) sejak tahun 2003.

Aksi kampanye yang dilakukan secara langasung dilakukan serentak di beberapa rumah sakit di Surabaya, seperti RSUD Bhakti Dharma Husada, RSUD Dr. Soetomo, dan RS Universitas Airlangga, pada Rabu (10/9/2025)

Baca juga: Panduan Pertolongan Pertama untuk Mencegah Bunuh Diri

Dalam kegiatan itu SSU bersama calon psikiater FK Unair melakukan penyebaran brosur serta penyuluhan kepada pasien, keluarga pasien, tenaga kesehatan, dan karyawan rumah sakit.

Selain itu, kampanye juga berlangsung secara daring melalui media sosial. E-brosur, twibbon kepedulian, serta konten edukasi berupa video, infografis, dan story interaktif dibagikan kepada masyarakat luas.

Lomba foto bertema pencegahan bunuh diri pun digelar melalui akun resmi Instagram @sbysuicideupdate, yang pemenangnya akan diumumkan pada 14 September 2025 bersamaan dengan sesi IG Live bersama pakar.

"Mengutip data dari WHO bahwa lebih dari 720.000 orang per tahun meninggal dunia akibat bunuh diri , dan angkanya terus meningkat. Selain itu masih kuatnya stigma dan mitos membuat banyak orang enggan mencari pertolongan," ujar co-founder SSU dr. Brihastami Sawitri, Sp.KJ.

Sehingga tema yang diusung selama 3 tahun ini belakangan ini adalah “Ubah Narasi terkait Bunuh Diri” mengingat urgensinya yang membutuhkan perhatian berkelanjutan dari semua pihak.

“Bunuh diri bukan kelemahan moral, melainkan persoalan kesehatan mental yang perlu ditangani secara profesional. Dengan mengubah narasi, kita bisa menggeser dari stigma menuju pemahaman, dari menghakimi menjadi empati,” kata dr. Brihastami Sawitri.

Kampanye ini bukan sekadar simbolis, melainkan upaya kolektif agar masyarakat berani membuka percakapan, saling mendukung, dan menumbuhkan harapan bahwa bunuh diri bisa dicegah. SSU juga mengajak media massa untuk berperan aktif dalam menyebarkan pesan positif.

“Bunuh diri adalah kondisi kegawatdaruratan medis. Publikasi yang tepat dari media dapat membantu mengurangi rasa malu dan isolasi sosial, sekaligus mendorong orang mencari pertolongan,” tambah dr. Brihastami Sawitri, yang juga narahubung pada SSU ini.

Menurutnya Selama ini, pembicaraan terkait bunuh diri sering dikelilingi oleh stigma, mitos, dan rasa takut, sehingga banyak orang yang sedang berjuang enggan mencari bantuan karena takut dihakimi atau dianggap lemah.

"Melalui perubahan narasi, diharapkan muncul perubahan stigma ke pemahaman keinginan bunuh diri bukan kelemahan moral, namun berhubungan dengan masalah kesehatan mental, stres berat, atau trauma," ungkapnya.

Selai itu, dari diam ke percakapan terbuka berbicara keinginan bunuh diri bukan untuk menyebarkan ide, melainkan membuka jalan menuju pertolongan.

Dari menghakimi ke empati: alih-alih mengatakan kamu kurang iman, lebih baik katakan aku peduli, aku mendengarkan. Dari putus asa ke harapan bahwa krisis adalah sementara, dan bantuan selalu tersedia.

"Melalui perubahan narasi ini pula diharapkan semua orang dapat lebih berperan serta mencegah bunuh diri dengan membantu mereka yang mencari pertolongan merasa aman, meminimalisir rasa malu dan isolasi sosial," bebernya.

Dia berharap membuka ruang dialog yang sehat di keluarga, sekolah, tempat kerja dan masyarakat, meningkatkan harapan bahwa bunuh diri dapat dicegah dengan dukungan yang tepat.

Editor : Fahrizal Tito



Berita Terkait