Budidaya jamur tiram (Foto: IPB University)
Bogor, mili.id - Hanya dalam waktu 6 Minggu, budidaya jamur tiram di Desa Karacak, Kabupaten Bogor ini bisa menghasilkan cuan.
Budaya jamur tiram secara mandiri itu dilakukan Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Forest Management Students’ Club (FMSC) 2025, IPB University.
Baca juga: Tekuk Semua Lawan, PWI Kota Bogor Juarai Mini Soccer Bupati Bogor Cup 2026
Budidaya jamur tiram ini sebagai bentuk mendukung peningkatan lahan atau tempat yang tadinya tidak produktif agar kembali menjadi tempat produktif.
Budidaya jamur tiram ini diawali dengan revitalisasi kumbung jamur di RW 8 pada tanggal 14 Agustus 2025 dan 23 Agustus 2025. Revitalisasi dilakukan dengan mengganti atap dengan genteng dan penambahan bilik agar kumbung jamur tersebut lebih layak untuk dilakukan budidaya jamur tiram.

Selain revitalisasi dari kumbung jamur, Tim PPKO FMSC 2025 juga melakukan persiapan budidaya jamur tiram dengan melaksanakan diskusi dengan beberapa tokoh yang sudah ahli dalam budidaya jamur, di antaranya Ikhwan selaku laboran Laboratorium Patologi Departemen Silvikultur, Budi selaku petani jamur, dan Nisa selaku petani jamur Gen Z.
Hasil diskusi bersama para tokoh budidaya jamur tiram ini cukup membawakan bekal untuk dilaksanakannya program budidaya jamur tiram di Desa Karacak.
Pada tanggal 12-13 September 2025 Tim PPKO FMSC 2025 mempersiapkan segala bentuk keperluan untuk pelatihan budidaya jamur tiram, khususnya pembuatan baglog.
Alat dan bahan yang dipersiapkan untuk budidaya jamur tiram meliputi plastik, tali rafia, karet, ring baglog, serbuk gergaji, dedak, kapur dolomit, sudip, alat press, drum, kapas, terpal, plastik drum, proclin, alkohol.

Baca juga: Kejar-kejaran Dramatis di Bogor Berakhir Mobil Terguling, Terduga Pelaku Pembunuhan Wanita Ditangkap
Pada hari pelatihan jamur tiram di tanggal 14 September 2025, dihadiri Nisa dan KTH Sumber Jaya melibatkan 12 peserta. Pelatihan tersebut memaparkan beberapa materi tentang budidaya jamur secara umum, cara pembuatan F2, cara pembuatan baglog, dan cara pemindahan bibit F2 ke baglog.
Praktik pembuatan baglog sebanyak 104 buah pun dilakukan pada hari pelatihan yang menggabungkan serbuk gergaji, dedak, dan kapur dolomit.
Kegiatan itu terlaksana dengan kondusif dan mudah dipahami oleh para petani. Selama kegiatan, semua peserta terlihat sangat antusias, karena ilmu yang diberikan sangat bermanfaat untuk budidaya ke depannya.
Pembuatan media baglog tidak hanya berhenti pada tanggal 14 September, kegiatan dilanjut pada tanggal 18 September. Pada tanggal 19 September kami melanjutkan kegiatan pengukusan media baglog dengan tujuan mensterilisasi media agar jamur tiram berhasil untuk dibudidaya.

Setelah media baglog disterilisasi, media tersebut diisi dengan bibit F2 pada tanggal 20 September. Baglog yang sudah terisi bibit kemudian dibiarkan selama 6 minggu sampai hari panen. Sembari menunggu hari pemanenan jamur tiram nanti.
Tim PPKO FMSC 2025 pun nanti turut membuat bahan anakan F2 dengan media jagung untuk digunakan sebagai bibit F2 pada baglog-baglog di periode selanjutnya.
Adanya kegiatan budidaya jamur tiram yang diharapkan dapat terus berjalan dan memberikan dampak yang baik bagi masyarakat Desa Karacak.
Hutan Lestari, Desa Berdikari
Editor : Narendra Bakrie
