Basuki Hadimuljono, Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara
Mili.id – Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk pertama kalinya ditetapkan sebagai titik pemantauan hilal (rukyatul hilal) dalam rangka penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan bersejarah tersebut berlangsung di Rusun ASN 1 Tower D, Selasa (17/2/2026).
Pemantauan hilal dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah Kalimantan Timur atas permintaan Kementerian Agama Republik Indonesia. Pemilihan kawasan IKN dinilai strategis karena memiliki lokasi pengamatan yang tinggi dan terbuka sehingga mendukung proses observasi astronomi.
Baca juga: Pemerintah Percepat Pembangunan IKN, Target Jadi Ibu Kota Politik pada 2028
Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara, Basuki Hadimuljono, menyebut keterlibatan IKN dalam rukyatul hilal menjadi momentum penting yang menandai awal peran ibu kota baru dalam kegiatan keagamaan berskala nasional.
“Kami dari Otorita IKN sangat mendukung pemantauan hilal dilakukan di IKN. Ini merupakan kehormatan sekaligus kesempatan bagi IKN sebagai Ibu Kota Negara menjadi salah satu titik pengamatan dari 96 lokasi yang tersebar di Indonesia,” ujarnya.
Baca juga: LF PBNU Rilis Data Hilal Zulhijah 1447 H, Iduladha 2026 Berpotensi Serentak 27 Mei
Ke depan, keberadaan masjid raya di kawasan IKN juga diharapkan semakin memperkuat posisi Nusantara sebagai ruang penyelenggaraan aktivitas keagamaan nasional.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Khaliq, menjelaskan bahwa hasil pemantauan pada hari tersebut menunjukkan hilal belum dapat terlihat.
Baca juga: Kemenag Aceh Siapkan Rukyatul Hilal Zulhijah 1447 H, Hilal Berpotensi Terlihat di Lhoknga
“Berdasarkan data BMKG, posisi hilal masih berada di bawah ufuk sehingga bulan belum terlihat,” jelasnya.
Meski belum berhasil mengamati hilal, pelaksanaan rukyatul hilal di IKN dinilai sebagai langkah awal yang menegaskan fungsi Nusantara tidak hanya sebagai pusat pemerintahan masa depan, tetapi juga sebagai ruang bersama bagi kegiatan keagamaan dan kebangsaan.
Editor : Redaksi
