Mili.id - Kementerian Transmigrasi menyoroti kisah inspiratif almarhum Abdul Rohid, anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2025, dalam prosesi wisuda di Gedung Grha Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Sabtu (18/4/2026). Rohid wafat setelah terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian di Kawasan Transmigrasi Bahari Tomini Raya, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Alih-alih segera menyelesaikan prosesi kelulusannya pada 2025, Rohid memilih menunda wisuda untuk bergabung dalam program Transmigrasi Patriot. Ia terjun langsung ke lapangan, bekerja bersama masyarakat di kawasan transmigrasi yang kini berkembang sebagai salah satu sentra produksi durian nasional hingga menembus pasar ekspor.
Baca juga: Peringkat Dunia Melesat, ITS Tembus 497 Besar di QS WUR 2027
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyampaikan bahwa keputusan tersebut mencerminkan pilihan hidup yang tidak banyak diambil generasi muda. Rohid dinilai tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kawasan.
“Beliau seharusnya wisuda pada September tahun lalu, namun memilih menunda. Rohid memilih turun ke lapangan dan mengabdi. Itu bukan keputusan biasa, melainkan keputusan hidup,” ujarnya.
Di lapangan, kontribusi Rohid menjadi bagian dari kerja kolektif yang mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kawasan. Bahari Tomini Raya kini berperan penting dalam produksi durian di Sulawesi Tengah, termasuk dalam rantai pasok komoditas ekspor.
“Transmigrasi saat ini menyumbang sekitar 80 persen produksi durian di Kabupaten Parigi Moutong, dengan nilai ratusan miliar hingga mendekati satu triliun rupiah per tahun. Di sanalah almarhum pernah bertugas. Artinya, ada jejak pengabdiannya dalam capaian tersebut,” kata Mentrans.
Di luar aktivitasnya, Rohid dikenal sebagai pribadi sederhana dan mandiri. Ia memiliki cita-cita memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, memberangkatkan orang tuanya untuk umrah, serta membantu adiknya, Aprilia Nur Intan Saputri, meraih pendidikan tinggi.
Sebagai bentuk penghargaan, Kementerian Transmigrasi akan memberikan beasiswa kepada adiknya hingga lulus SMA. Selain itu, pihak ITS juga berkomitmen membantu membuka jalan agar pendidikan dapat dilanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Baca juga: Mantapkan Hilirisasi Riset, ITS Siap Kawal Peta Jalan Riset Strategis Nasional
Momen wisuda semakin bermakna dengan penyerahan karya inovasi almarhum berupa air purifier kepada ITS. Inovasi tersebut diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut agar memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
“Hari ini juga diserahkan hasil inovasi saudara Abdul Rohid berupa air purifier kepada ITS, dan kami akan mengembangkan agar menjadi lebih baik,” ujar Rektor ITS Bambang Pramujati.
Peristiwa ini menjadi gambaran bahwa program Transmigrasi Patriot tidak hanya berfokus pada mobilitas tenaga muda, tetapi juga pembentukan sumber daya manusia unggul yang terlibat langsung dalam pembangunan kawasan.
Kementerian Transmigrasi menilai, kontribusi Rohid menjadi pengingat bahwa pembangunan membutuhkan kehadiran generasi muda yang siap bekerja dan mengabdi di lapangan.
Baca juga: ITS Luncurkan Kompor Plasma, Solusi Energi Masa Depan Pengganti Elpiji
“Almarhum Abdul Rohid tidak hanya menyelesaikan studinya, tetapi juga telah menuntaskan tugas hidupnya sebagai anak yang berbakti, manusia yang berguna, dan patriot bagi bangsa,” tutup Mentrans.
“Selamat jalan Abdul Rohid. Kami akan melanjutkan mimpimu dan pengabdian yang telah engkau mulai, agar hidup ini benar-benar bermakna.”
Editor : Erwin Muhammad
