Lokakarya internasional bertajuk Asian Fish Welfare Network Project – Improving Farmed Fish Welfare in Asia, hasil kolaborasi antara FPK Unair, University of Stirling, dan Politeknik AUP Jakarta.
Mili.id — Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya, memperbincangkan tentang ikan bergerak melampaui soal produksi dan pasar. Ia masuk ke wilayah yang lebih sunyi, namun krusial: apakah ikan bisa merasakan sakit—dan apa artinya bagi masa depan akuakultur Indonesia?
Pertanyaan itu menjadi pembuka dalam lokakarya internasional bertajuk Asian Fish Welfare Network Project – Improving Farmed Fish Welfare in Asia, hasil kolaborasi antara FPK Unair, University of Stirling, dan Politeknik AUP Jakarta. Digelar di Kampus MERR-C Unair, pada 21 April 2026, forum ini mempertemukan peneliti, praktisi, dan pengambil kebijakan dalam satu meja diskusi yang tidak biasa: kesejahteraan ikan.
Alih-alih paparan satu arah, sesi dibuka dengan interaksi digital. Peserta diminta menjawab—secara jujur—apakah ikan mampu merasakan penderitaan. Dari sana, diskursus mengalir, memantik rasa ingin tahu sekaligus menggugah kesadaran.
Simao Zacarias menegaskan bahwa kesejahteraan hewan bukan sekadar isu etika, melainkan ranah sains. Ia merujuk pada berbagai publikasi yang menunjukkan bahwa ikan memiliki kapasitas sentience—kemampuan merasakan. “Jika demikian, maka mereka juga bisa mengalami rasa sakit dan stres,” ujarnya.
Konsekuensinya tidak sederhana. Penilaian kesejahteraan ikan, lanjutnya, harus dilihat dari empat domain: nutrisi, lingkungan, kesehatan, dan perilaku. Keempatnya saling terhubung dalam pendekatan One Welfare, sebuah konsep yang mengaitkan kesejahteraan hewan dengan kesejahteraan manusia—termasuk para pembudidaya—serta keberlanjutan lingkungan.
Di titik ini, diskusi bergeser dari “ikan” ke “manusia”. Kesejahteraan ikan ternyata bukan semata soal makhluk air, tetapi juga tentang kualitas hidup petani, efisiensi produksi, hingga keberlanjutan ekosistem.
Sementara itu, Dave Little menggarisbawahi tantangan yang lebih mendasar: bias persepsi manusia. Menurutnya, empati publik cenderung lebih mudah muncul pada hewan darat dengan ekspresi yang “terbaca”, seperti anjing atau kucing. Ikan, dengan dunia yang berbeda, sering kali luput dari perhatian.
“Banyak yang menganggap ikan sebagai bentuk kehidupan yang lebih rendah,” katanya. “Padahal, cara pandang ini perlu diperbarui, terutama jika kita ingin membangun akuakultur yang berkelanjutan.”
Indonesia, dalam konteks ini, bukan pemain kecil. Dengan status sebagai produsen akuakultur terbesar kedua di dunia setelah China, Indonesia menjadi titik strategis dalam peta global. Inilah yang mendorong perluasan proyek internasional ini ke tanah air, setelah sebelumnya berjalan di Thailand dan Vietnam sejak 2022.
Memasuki fase kedua hingga 2028, proyek ini tidak hanya menyoroti praktik budidaya di kolam atau tambak. Ia menelusuri seluruh rantai nilai—dari fasilitas produksi hingga pasar yang masih memperdagangkan ikan hidup. Pendekatan menyeluruh ini membuka ruang perbaikan yang lebih sistemik.
Lebih dari sekadar forum diskusi, inisiatif ini juga membawa peluang konkret. Skema pendanaan riset internasional hingga £75.000 untuk durasi 6–12 bulan ditawarkan bagi kolaborasi lintas negara. Tak berhenti di situ, beasiswa penuh jenjang Master di Institute of Aquaculture, University of Stirling, turut menjadi bagian dari paket pengembangan kapasitas.
Bagi Indonesia, langkah ini bisa menjadi momentum penting. Selama ini, orientasi produksi sering kali mendominasi sektor perikanan budidaya. Namun, melalui pendekatan baru ini, narasi mulai bergeser—bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari kuantitas, tetapi juga kualitas dan etika.
Di tengah tekanan global terhadap praktik industri yang lebih berkelanjutan, diskursus fish welfare menjadi relevan, bahkan mendesak. Ia bukan sekadar tren akademik, melainkan fondasi bagi masa depan akuakultur yang lebih bertanggung jawab.
Editor : Erwin Muhammad
