Demi Menjadi Ahli Gizi, Mahasiswi Asal Kalimantan Utara Rela Lepas Status Kuliah di Semarang demi Unair

Demi Menjadi Ahli Gizi, Mahasiswi Asal Kalimantan Utara Rela Lepas Status Kuliah di Semarang demi Unair © mili.id

Demi mengejar impiannya menjadi mahasiswa Gizi Unair, Ayudhya Sekarwangi asal Nunukan, Kalimantan Utara rela meninggalkan status mahasiswanya. Saat ini, ia diketahui sudah berkuliah di salah satu universitas di Semarang.

Mili.id - Tidak sedikit peserta Tes Mandiri Universitas Airlangga (Unair) 2026 datang dengan membawa kisah perjuangannya masing-masing. Sebagian dari mereka bahkan rela melepaskan status sebagai mahasiswa di perguruan tinggi lain karena ingin mengejar impian untuk menempuh pendidikan di Unair.

Demi mengejar impiannya menjadi mahasiswa Gizi Unair, Ayudhya Sekarwangi asal Nunukan, Kalimantan Utara rela meninggalkan status mahasiswanya. Saat ini, ia diketahui sudah berkuliah di salah satu universitas di Semarang.

Baca juga: Pakar Unair: Serbuan Wisatawan Asing Bukan Penyelamat Rupiah, Melainkan Peluang Emas Pariwisata Indonesia

Bagi sebagian orang, melepas kursi perguruan tinggi yang sudah pasti didapatkan adalah pilihan yang berisiko. Namun, bagi gadis yang sedang menjalani masa gap year ini, membulatkan tekadnya sejak gagal diterima Unair tahun lalu. Sejak awal masuk kuliah di Semarang, fokusnya tidak pernah beralih.  Ia justru mempersiapkan masuk ujian mandiri Unair jauh-jauh hari sejak dinyatakan kelulusannya di universitas tersebut.

"Sebenarnya dari pas saya masuk universitas itu, saya sudah ada kepikiran untuk mencoba lagi tahun depan. Jadi memang persiapannya sudah dicicil sekitar 6 bulan sejak masa ospek kuliah," ungkap Ayudhya saat ditemui usai melaksanakan ujian, Senin(29/6/2026).

Selama satu semester, Ayudhya harus menjalani hari-hari yang cukup menantang. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswi, ia tetap meluangkan waktu untuk mengikuti kelas bimbingan belajar (les) dan belajar mandiri dari buku-buku latihan soal demi menembus ketatnya persaingan di UNAIR.

Baca juga: Mahasiswa FIKKIA Unair Presentasikan Riset Travel Medicine di Belanda, Soroti Keselamatan Pendaki Kawah Ijen

Saat ditanya mengenai alasannya bersikeras pindah ke Unair, Ayudhya menjelaskan bahwa reputasi dan kualitas lulusan menjadi faktor utama. Selain itu, aspek geografis dan keberadaan keluarga di Surabaya juga memantapkan pilihannya.

Ia menilai Unair sebagai salah satu kampus top 3 di Indonesia dengan kualitas dosen dan kurikulum prodi Gizi yang sangat mumpuni. Dari segi akses transportasi, Kota Surabaya dinilai sangat strategis bagi dirinya yang berasal dari Kalimantan Utara. “Akses pilihan transportasi, baik menggunakan kapal laut maupun pesawat terbang, jauh lebih mudah untuk mobilitas pulang-pergi,” tuturnya.

Selain itu, ia juga terkesima dengan fasilitas ujian di UNAIR. Jauh-jauh dari Semarang, kesan pertama yang ya dapat sangat positif. Ia merasa dilayani dengan baik seperti tersedianya roti dna teh untuk sarapan bagi peserta. Padahal, ia mengaku sempat gugup, namun penyambutan dari panitia UNAIR di luar ekspektasinya.

Baca juga: BEM FEB Unair Desak Pemerintah Tindaklanjuti Rekomendasi Ekonom

"Disini benar-benar diperlakukan dengan sangat baik. Saya sampai tidak mengira kalau kami sebelum ujian itu dikasih roti dan disuruh minum dulu. Pembawaannya jadi lebih santai, meskipun saat ujian pengerjaan subtesnya cukup memacu adrenalin karena dibatasi waktu 55 menit," tambahnya sambil tersenyum.

Mendapat dukungan penuh dari orang tua, Ayudhya berharap perjuangannya kali ini berbuah manis. Jika dinyatakan lolos, ia berkomitmen untuk langsung pindah ke UNAIR dan aktif berkontribusi melalui berbagai perlombaan serta bergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Editor : Muhammad



Berita Terkait