Kombes Pol. Dr. Muhammad Arsal Sahban, S.H., S.I.K., M.H., M.M.
Mili.id – Komunitas sejarah dan budaya independen Juru Lamadjang merilis hasil riset tokoh-tokoh paling berpengaruh di Kabupaten Lumajang lintas zaman. Dari puluhan nama yang masuk dalam daftar, satu sosok menarik perhatian, yakni Kombes Pol. Dr. Muhammad Arsal Sahban, S.H., S.I.K., M.H., M.M., yang menjadi satu-satunya tokoh bukan warga asli Lumajang dalam kategori Era Reformasi hingga Sekarang.
Arsal Sahban yang menjabat sebagai Kapolres Lumajang pada periode 2018–2019 dinilai meninggalkan jejak pengabdian yang kuat, meski hanya bertugas sekitar 13 bulan. Berasal dari Kalosi, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, namanya tetap dikenang masyarakat karena berbagai kebijakan yang berdampak langsung terhadap situasi keamanan di Lumajang.
Baca juga: Hadapi Lonjakan Permintaan, Pemkab Lumajang Jamin Ketersediaan LPG
Riset yang dilakukan Juru Lamadjang bersama Untuk Bangsa Foundation menggunakan lima indikator utama, yakni rekam jejak pengabdian, kredibilitas, jaringan sosial, kemampuan memengaruhi opini publik, serta dampak nyata yang masih dirasakan masyarakat. Tim peneliti tidak hanya mengkaji dokumen sejarah, tetapi juga melakukan survei dan diskusi langsung dengan warga di sejumlah wilayah di Lumajang.
Salah satu peneliti, Perdana Anugrah, mengungkapkan bahwa nama Arsal Sahban muncul secara spontan dalam berbagai diskusi lapangan, terutama saat masyarakat diminta menyebut tokoh yang berhasil menciptakan rasa aman.
"Warga dengan spontan menyebut, 'Enak zamannya Pak Arsal, masyarakat aman dan merasa dilindungi.' Bukan semata karena jabatan yang pernah beliau emban, tetapi karena dampak yang ditinggalkan masih dirasakan hingga hari ini," ujar Perdana.
Selama memimpin Polres Lumajang, Arsal Sahban dikenal membentuk Tim Cobra, satuan tugas yang fokus memberantas kejahatan jalanan, begal, pencurian ternak, hingga aktivitas tambang pasir ilegal. Langkah tersebut dinilai berhasil menekan angka kriminalitas sekaligus mengurangi rasa takut masyarakat terhadap kejahatan.
Sebelum periode tersebut, Lumajang kerap mendapat stigma sebagai daerah rawan begal dan pencurian sapi. Banyak warga mengaku enggan bepergian pada malam hari karena tingginya tingkat kriminalitas.
Penilaian terhadap Arsal Sahban tidak hanya didasarkan pada persepsi masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang menunjukkan angka tindak pidana pada 2019 berada di titik terendah dalam kurun waktu 2016–2024.
Baca juga: Perkuat Kolaborasi Antar Daerah, Pemkot Mojokerto Jalin Sinergitas dengan Lumajang
Pada 2019, jumlah tindak pidana tercatat sebanyak 312 kasus, turun hampir 54 persen dibandingkan 676 kasus pada 2018. Setelah Arsal Sahban tidak lagi menjabat sebagai Kapolres, angka kriminalitas kembali meningkat. Bahkan pada 2023 tercatat mencapai 1.402 kasus, atau sekitar 4,5 kali lipat dibandingkan 2019.
Data tersebut menjadi salah satu dasar yang memperkuat kesan masyarakat bahwa situasi keamanan pada masa kepemimpinan Arsal Sahban memang berbeda dan memiliki dampak nyata.
Daftar tokoh berpengaruh yang diunggah melalui media sosial Juru Lamadjang juga mendapat sambutan positif dari masyarakat. Sejumlah warganet menyampaikan apresiasi terhadap masuknya nama Arsal Sahban dalam daftar tersebut.
Menanggapi penghargaan tersebut, Arsal Sahban mengaku merasa terhormat masih dikenang masyarakat Lumajang.
"Saya merasa sangat terhormat bisa dianggap sebagai bagian dari tokoh yang berpengaruh di Kabupaten Lumajang. Ini menjadi pengingat bahwa apa yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, betapapun singkatnya, bisa meninggalkan kesan yang melampaui waktu. Lumajang akan selalu punya tempat tersendiri di hati saya," ujarnya.
Saat ini Arsal Sahban mengemban tugas sebagai Kasubdit II/Perbankan Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri. Ia juga masuk dalam tiga besar kandidat Polisi Berintegritas pada Hoegeng Awards 2026.
Masuknya nama Arsal Sahban dalam daftar tokoh berpengaruh versi Juru Lamadjang menunjukkan bahwa pengaruh seorang pemimpin tidak selalu ditentukan oleh asal daerah ataupun lamanya menjabat. Bagi masyarakat Lumajang, jejak pengabdian dan dampak nyata yang dirasakan menjadi alasan utama mengapa sosoknya masih dikenang hingga kini.
Editor : Muhammad
