Prabowo Balas Kritik #IndonesiaGelap: "Kalau Mau Kabur, Silakan Saja"

Prabowo Balas Kritik #IndonesiaGelap: "Kalau Mau Kabur, Silakan Saja" © mili.id

Presiden Prabowo Subianto memberikan respons keras terhadap gelombang kritik dalam pidatonya di Cilacap pada Rabu (29/4/2026)

Mili.id – Presiden Prabowo Subianto memberikan respons keras terhadap gelombang kritik di media sosial yang belakangan menyasar pemerintahannya, termasuk tagar #IndonesiaGelap dan #KaburAjaDulu. Dalam pidatonya di Cilacap pada Rabu (29/4/2026), Presiden menegaskan bahwa narasi-narasi negatif tersebut tidak berdasar dan berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Terkait tagar #IndonesiaGelap yang viral di jagat maya, Presiden Prabowo menepisnya dengan nada satir.

Baca juga: Prabowo di Hari Bhayangkara ke-80: Polri Harus Jadi Pelindung Rakyat dan Kompas Moral Bangsa

"Terus kita dibikin apa lagi? Indonesia gelap. Matanya buram, Indonesia gelap. Indonesia terang," ujar Prabowo di hadapan hadirin.

Samakan Kritik dengan Gerakan Pecah Belah

Prabowo menilai gerakan kritik yang kini muncul di media sosial memiliki pola yang serupa dengan taktik adu domba era kolonial. Ia bahkan menyamakan dampak narasi tersebut dengan gerakan-gerakan pemberontakan di masa lalu, seperti DI/TII, Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), RMS, hingga PRRI-Permesta.

Bagi Presiden, penyebaran narasi pesimis ini tidak sejalan dengan realitas objektif saat ini. Ia bahkan mengklaim bahwa dunia saat ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling aman.

Menanggapi tagar #KaburAjaDulu, Presiden pun melontarkan tantangan bagi mereka yang tidak lagi merasa betah di Tanah Air.

"Ada yang mau kabur? Kabur aja. Kabur aja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman ya? Silakan. Mau kabur ke mana?" tegasnya. "Iya kabur aja biar kita enggak gaduh."

Baca juga: Prabowo Kumpulkan 2.600 Akademisi, Dorong Kampus Jadi Motor Kemajuan Bangsa

Seruan untuk 'Profesor Merah Putih'

Di tengah polemik tersebut, Prabowo justru mengalihkan fokus pada panggilan tugas bagi seluruh elemen bangsa. Ia menantang para kaum intelektual—mulai dari teknokrat, ilmuwan, insinyur, hingga profesor—untuk mendedikasikan kepintaran mereka bagi kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau pihak asing.

"Sekarang saatnya para teknokrat, saatnya para ilmuwan, saatnya para insinyur, para profesor jadi profesor merah putih, jadi profesor pembela rakyat," kata Presiden.

Ia memberikan peringatan keras agar kepandaian tidak disalahgunakan untuk menutupi korupsi atau memperkaya pihak lain. Presiden menegaskan tidak akan memberikan tempat di lingkar pemerintahannya bagi siapa pun yang tidak memiliki semangat patriotik.

Baca juga: Prabowo Kunjungi Madura, Resmikan Ribuan Kilometer Jalan dan Hadiri Penutupan Munas-Konbes NU

"Saya tidak akan toleransi mereka-mereka yang tidak patriotik. Sepintar apa pun kalau kau tidak bela bangsamu sendiri, tidak ada tempat di sekitar saya. Carilah orang lain," tambahnya.

Konteks Kritik Publik

Respons keras Presiden ini muncul di tengah meningkatnya kritik dari kelompok mahasiswa dan masyarakat sipil terhadap arah kebijakan pemerintahan. Sejumlah isu yang menjadi sorotan utama meliputi penerapan kebijakan pajak baru serta pengesahan beberapa aturan kontroversial.

Sentimen negatif di media sosial ini semakin tajam seiring dengan sorotan publik terhadap gaya hidup mewah dan sikap para pejabat publik yang dinilai kurang empatik di tengah beban ekonomi masyarakat. Meski demikian, Presiden tetap kukuh pada visinya untuk mengoptimalkan kekayaan bangsa demi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

Editor : Redaksi



Berita Terkait