Kapal-kapal terlihat berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas di Iran selatan
Mili.id – Di tengah gemuruh "Operasi Epic Fury" yang digulurkan Amerika Serikat sejak akhir Februari lalu, terselip kisah pilu para pelaut yang terjebak di pusaran konflik. Anish (bukan nama sebenarnya), seorang pelaut asal India, kini terdampar di jalur perairan Shatt al-Arab selama hampir 10 minggu tanpa kepastian kapan bisa pulang.
Anish tiba dengan kapal kargonya sesaat sebelum ketegangan militer meletus. Sejak saat itu, hari-harinya diisi dengan suara ledakan dan pemandangan rudal yang melintas di langit Iran.
Baca juga: Iran Pertahankan Penutupan Selat Hormuz, Kaitkan dengan Situasi Lebanon dan Ekspor Minyak
"Kami menghadapi seluruh situasi di sini: perang, rudal. Pikiran kami sangat terganggu," ungkap Anish dalam wawancara anonim dengan Al Jazeera, Jumat (8/5/2026).
Terjebak Krisis Gaji dan Agen
Kepulangan Anish dan rekan-rekannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meski ada jalur darat sepanjang 44 km menuju Armenia yang bisa ditempuh, banyak pelaut memilih bertahan di kapal demi memperjuangkan hak mereka.
Masalah utama berakar pada karut-marut birokrasi agen perekrut. Anish membeberkan bahwa para agen di India belum membayarkan gaji para pelaut. Di sisi lain, agen lokal di Iran menolak memberikan mata uang dolar yang sangat dibutuhkan para pelaut sebagai bekal perjalanan menuju perbatasan Armenia.
Baca juga: Ketegangan AS-Iran Memanas, Saling Serang Picu Kekhawatiran Konflik Meluas
"Beberapa terjebak karena agen India tidak memberi gaji, sementara agen Iran menahan dolar kami," tuturnya masygul.
Ancaman Kelaparan di Tengah Perang
Selain tekanan mental akibat perang, krisis logistik mulai menghantui para awak kapal. Anish mengaku selama dua bulan terakhir ia hanya mampu mengonsumsi kentang, bawang, tomat, dan roti pipih untuk menyambung hidup.
Baca juga: AS dan Iran Dikabarkan Capai Kesepakatan Awal soal Selat Hormuz dan Uranium
Kondisi di kapal lain dikabarkan jauh lebih memprihatinkan. Anish mendengar laporan bahwa stok makanan dan air bersih di beberapa kapal kargo yang juga terjebak di pelabuhan Iran mulai menipis hingga ke titik kritis.
Kisah Anish adalah cermin dari ribuan pekerja migran sektor maritim yang sering kali menjadi "korban tak terlihat" saat konflik geopolitik pecah, terjepit di antara desing peluru dan sengketa upah yang tak kunjung usai.
Editor : Redaksi
