Mili.id – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga beras nasional masih berada dalam kondisi stabil berkat dukungan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 5 juta ton. Pemerintah menegaskan keseimbangan harga terus dijaga agar petani tetap untung dan masyarakat memperoleh beras dengan harga terjangkau.
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, , mengatakan pemerintah berupaya bersikap adil terhadap seluruh rantai pangan, mulai dari petani, pedagang hingga konsumen.
Baca juga: BULOG Mojokerto Salurkan 810 Ribu Liter MinyaKita, Jaga Harga Tetap Stabil di Tiga Daerah
Menurut Amran, kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram diterapkan untuk melindungi harga gabah petani saat panen raya agar tidak anjlok. Sementara itu, harga eceran tertinggi (HET) menjadi instrumen pengendalian harga di tingkat konsumen.
“Kalau petani rugi, dia tidak akan produksi padi. Tidak produksi padi, impor. Impor berarti kita pro pada negara lain,” ujar Amran dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Data Bapanas hingga 10 Mei 2026 menunjukkan rata-rata harga beras premium nasional berada di angka Rp15.758 per kilogram, sedikit turun dibanding pekan sebelumnya sebesar Rp15.801 per kilogram. Meski demikian, harga beras premium di sejumlah wilayah Indonesia timur masih tercatat melampaui HET.
Sementara itu, harga beras medium secara nasional relatif stabil di angka Rp13.444 per kilogram atau naik tipis 0,06 persen dibanding pekan sebelumnya.
Baca juga: Polres Kediri Raih Penghargaan Terbaik II Se-Jawa Timur Capaian Serapan Jagung ke Bulog Th.2026
Untuk harga gabah kering panen di tingkat petani, rata-rata nasional tercatat mencapai Rp6.925 per kilogram. Sulawesi Tenggara menjadi daerah dengan harga terendah sebesar Rp6.500 per kilogram, sedangkan Sumatera Barat mencatat harga tertinggi mencapai Rp7.700 per kilogram.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, , menegaskan pemerintah akan terus mengoptimalkan stok CBP melalui program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), serta penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah.
Menurut Ketut, stok beras nasional yang masih aman memberikan ruang intervensi cukup luas bagi pemerintah untuk menjaga kestabilan harga hingga semester kedua 2026.
Baca juga: Menteri Pertanian: Stok Beras RI Tertinggi Sepanjang Sejarah, Tembus 5,3 Juta Ton
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tren positif terhadap Indeks Perkembangan Harga (IPH) pangan pokok strategis pada pekan pertama Mei 2026. Direktur Statistik Harga BPS, , menyebut jumlah provinsi dan kabupaten/kota yang mengalami penurunan IPH lebih banyak dibanding wilayah yang mengalami kenaikan.
BPS juga mencatat jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH beras turun dari 116 kabupaten/kota pada akhir April menjadi 105 kabupaten/kota pada pekan pertama Mei 2026. Sementara itu, fluktuasi harga beras medium tercatat sebesar 0,03 persen dan beras premium 0,28 persen.
Editor : Redaksi
