Mili.id – Investigasi kecelakaan maut yang mengguncang Stasiun Bekasi Timur terus berkembang. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kini membongkar isi black box milik taksi Green SM yang terlibat dalam rangkaian kecelakaan tragis antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek beberapa waktu lalu.
Langkah ini dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti insiden mengerikan yang menewaskan 16 orang dan menyebabkan puluhan lainnya luka-luka. KNKT menduga data digital di dalam kendaraan taksi tersebut bisa menjadi petunjuk penting dalam mengurai detik-detik sebelum kecelakaan terjadi.
Baca juga: Bocah 4 Tahun Korban Penganiayaan Ibu Tiri di Bekasi Masih Kritis, Jalani Perawatan Intensif
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan proses pengunduhan data dari sistem elektronik mobil masih berlangsung. Tim investigasi juga akan kembali meminta keterangan dari sopir taksi serta sejumlah saksi di lokasi kejadian.
“Data yang di mobil taksi itu kan ada black box-nya juga. Ini lagi kita unduh. Nanti, setelah kita evaluasi dan nanti kita akan bertanya lagi kepada pengemudinya ataupun orang-orang di sekitarnya apa yang terjadi di taksi Green taksi tadi,” kata Soerjanto di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Kecelakaan yang terjadi pada Senin malam (27/4/2026) itu sempat mengejutkan publik nasional. Dalam peristiwa tersebut, KA Argo Bromo Anggrek menabrak rangkaian KRL di sekitar Stasiun Bekasi Timur setelah sebelumnya sebuah taksi Green SM mengalami gangguan di tengah rel.
Berdasarkan informasi sementara, taksi tersebut diduga mengalami korsleting hingga mendadak berhenti di lintasan kereta api. Situasi itu membuat KRL relasi Cikarang–Jakarta yang melintas dari arah belakang akhirnya menabrak kendaraan tersebut sebelum kemudian terlibat kecelakaan yang lebih besar.
Benturan keras membuat suasana di lokasi berubah mencekam. Sejumlah gerbong mengalami kerusakan parah, sementara penumpang panik berusaha menyelamatkan diri. Tim evakuasi bekerja hingga larut malam untuk mengevakuasi korban dari rangkaian kereta yang rusak.
KNKT menegaskan investigasi masih terus berjalan dan belum dapat disimpulkan dalam waktu dekat. Proses analisis data digital disebut memiliki tantangan tersendiri karena sistem elektronik terkadang sulit diakses.
Baca juga: Libur Panjang Dongkrak Penumpang Commuter Line Surabaya, Tembus 55 Ribu Orang Sehari
“Kalau gampang bukanya, ya cepat, tapi kadang-kadang kan digital itu juga susah,” ujar Soerjanto.
Selain menelusuri isi black box taksi, KNKT juga masih melakukan serangkaian pemeriksaan lain, mulai dari sistem persinyalan kereta, kondisi lintasan, hingga komunikasi antarpetugas saat kejadian berlangsung.
“Kami masih dalam tahap pengumpulan data-data di lapangan dan masih ada beberapa tes yang harus kami lakukan di persinyalan, di lintas, kemudian komunikasi seperti apa. Kita lagi mengumpulkan data-datanya,” ungkapnya.
Sementara itu, kasus kecelakaan ini kini telah naik ke tahap penyidikan setelah aparat penegak hukum menemukan adanya dugaan unsur pidana dalam gelar perkara yang dilakukan sebelumnya. Kepolisian masih mendalami kemungkinan adanya kelalaian maupun pelanggaran prosedur yang memicu tragedi tersebut.
Baca juga: Tragedi Bekasi Terkuak: 31 Saksi Diperiksa, Polisi Dalami Rangkaian Fatal Tabrakan KA dan KRL
Peristiwa ini kembali memunculkan sorotan terhadap keselamatan transportasi publik di Indonesia, khususnya di kawasan perlintasan rel dan sistem pengamanan perjalanan kereta api. Banyak pihak mendesak evaluasi menyeluruh dilakukan agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Di sisi lain, keluarga korban masih menanti jawaban pasti mengenai penyebab kecelakaan yang merenggut nyawa orang-orang tercinta. Publik pun kini menunggu hasil investigasi KNKT yang diharapkan mampu membuka tabir di balik kecelakaan besar tersebut.
Dengan pemeriksaan black box taksi Green SM, investigasi memasuki babak baru yang dinilai krusial. Data digital itu diyakini dapat mengungkap apa yang sebenarnya terjadi beberapa menit sebelum tabrakan maut mengguncang Bekasi Timur.
Editor : Redaksi
