Mili.id - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan mengejutkan saat menutup pidato panjangnya selama hampir dua jam di hadapan DPR RI, Rabu (20/5). Dalam momen tersebut, Prabowo justru menyampaikan apresiasi kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang memilih tetap berada di luar pemerintahan atau menjadi oposisi.
Pernyataan itu disampaikan di tengah pidato pemaparan “Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEMPPKF) RAPBN 2027” yang untuk pertama kalinya dipresentasikan langsung oleh presiden di depan parlemen. Langkah tersebut menjadi tradisi baru di tengah kondisi ekonomi nasional yang sedang menghadapi tekanan nilai tukar rupiah dan pelemahan IHSG.
Baca juga: Prabowo Tegaskan Indonesia Emas Mustahil Terwujud Tanpa Perang Melawan Narkoba
Dalam pidatonya, Prabowo sempat berkelakar bahwa secara pribadi dirinya ingin semua partai politik bergabung dalam koalisi pemerintah. Namun, ia menilai kondisi tanpa oposisi justru tidak sehat bagi demokrasi.
“Setiap pemimpin harus mau dikritik, setiap eksekutif harus diawasi,” kata Prabowo sambil menyampaikan terima kasih kepada PDIP atas sikap kritis mereka terhadap pemerintah.
Baca juga: Prabowo Resmi Lantik 1.177 Perwira TNI-Polri, Tekankan Loyalitas kepada NKRI
Ia bahkan mengakui beberapa kritik dari kader PDIP cukup tajam dan keras. Meski demikian, Prabowo menilai kritik tersebut penting sebagai pengingat bagi pemerintah agar tidak keluar jalur.
“Ada pepatah yang mengatakan kalau orang mengingatkan kita walau kita tidak suka dikasih peringatan, tapi sebenarnya dia menyelamatkan kita,” ujarnya.
Baca juga: Prabowo Akui Kopdes Merah Putih Masih Banyak Kekurangan, Janji Operasional Terus Dibenahi
Pidato tersebut juga memuat sejumlah target ekonomi pemerintah untuk tahun 2027. Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,8 hingga 6,5 persen. Sementara inflasi diproyeksikan berada di angka 1,5 sampai 3,5 persen.
Dari sisi nilai tukar, pemerintah memperkirakan rupiah berada di level Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Target tersebut dipaparkan di tengah sorotan publik terhadap kondisi ekonomi nasional yang belakangan mengalami tekanan cukup besar.
Editor : Redaksi
