Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi. (Foto: Xinhua)
Mili.id – Harapan berakhirnya konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin menguat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat berpeluang ditandatangani dalam beberapa hari ke depan.
Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, IRIB TV, Araghchi menjelaskan bahwa setelah naskah akhir disepakati, proses penandatanganan akan dilakukan secara digital oleh kedua negara dari wilayah masing-masing sebelum diumumkan kepada publik dunia. Ia menyebut peluang tercapainya kesepakatan tersebut "belum pernah sedekat ini."
Baca juga: Konflik AS-Israel vs Iran Kian Memanas, Ratusan Tewas dan Evakuasi Warga Asing Siap
Kesepakatan yang tengah dimediasi oleh Pakistan itu diyakini menjadi langkah awal menuju normalisasi hubungan kedua negara yang selama ini terlibat dalam konflik terbuka. Setelah MoU ditandatangani, Iran dan Amerika Serikat disebut akan berkomitmen untuk tidak memulai perang baru serta melanjutkan perundingan tahap kedua selama 60 hari guna menyelesaikan isu program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi.
Araghchi menegaskan bahwa Teheran tetap mempertahankan garis merah dalam isu nuklir. Iran hanya bersedia mengencerkan uranium berkadar tinggi di dalam wilayahnya sendiri dan menolak skema lain yang dianggap merugikan kepentingan nasional negara tersebut.
Tidak hanya membahas isu nuklir, draf perdamaian juga mencakup penghentian konflik di berbagai medan tempur kawasan Timur Tengah, termasuk di Lebanon. Menurut Araghchi, kesepakatan tersebut akan mengarah pada penghentian permusuhan di seluruh front konflik yang selama ini melibatkan berbagai pihak di kawasan.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas Kemenhaj Prioritaskan Keselamatan Jemaah Umroh Indonesia
Salah satu poin paling strategis dalam pembahasan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur laut vital yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. Selain itu, Iran juga menginginkan pencabutan blokade laut oleh militer AS serta pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.
Meski demikian, Araghchi menegaskan bahwa tata kelola Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang. Iran tetap akan mempertahankan kedaulatan dan kehadiran militernya di kawasan tersebut, namun aturan pelayaran akan disesuaikan dengan hukum laut internasional. Ia juga membantah kabar bahwa Iran akan mengenakan tarif tol bagi kapal asing yang melintas, meski membuka kemungkinan adanya biaya layanan dengan nominal yang wajar.
Sinyal perdamaian juga datang dari Presiden AS, Donald Trump, yang menyatakan bahwa Washington telah mencapai kemajuan besar dalam upaya mengakhiri perang dengan Iran. Trump bahkan menyebut kesepakatan tersebut berpotensi disahkan dalam beberapa hari mendatang.
Meski sejumlah detail masih dalam tahap finalisasi dan terdapat perbedaan pandangan mengenai beberapa poin penting, perkembangan terbaru ini menjadi indikasi kuat bahwa salah satu konflik geopolitik terbesar di Timur Tengah sedang bergerak menuju babak baru yang lebih damai.
Editor : Muhammad
