Polisi Sekaligus Guru Ngaji Memetik Hikmah Kajian Ustad Latief Untuk Memperkuat Persatuan Dan Menjaga Kamtibmas Kota Malang

Polisi Sekaligus Guru Ngaji Memetik Hikmah Kajian Ustad Latief Untuk Memperkuat Persatuan Dan Menjaga Kamtibmas Kota Malang © mili.id

Mili.id – Para jamaah memadati Masjid Ramadhan Araya, Kota Malang, dalam Kajian Akbar yang menghadirkan Da’i nasional Ustad Das’ad Latief pada Minggu (14/6/2026) malam.

Di antara jamaah yang hadir, tampak Iptu Totok Haryanto, Kasubsie Keuangan Polresta Malang Kota yang akrab disapa Ustad Totok, turut menyimak secara seksama setiap pesan keagamaan yang disampaikan dalam tausiyah tersebut.

Baca juga: Polisi Ungkap Curat Mobil Pick Up di Blimbing, Pelaku Gandakan Kunci Sebulan Sebelum Beraksi

Bagi masyarakat Kota Malang, sosok Iptu Totok tidak hanya dikenal sebagai anggota Polri, tetapi juga sebagai guru ngaji dan pembina Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) di lingkungan tempat tinggalnya.

Karena itu, berbagai pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut dinilainya memiliki relevansi yang kuat dengan kehidupan masyarakat, termasuk dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Kajian Akbar mengangkat berbagai persoalan kehidupan yang dekat dengan realitas masyarakat.

Salah satu poin yang paling membekas bagi Iptu Totok adalah pesan bahwa setiap manusia yang hidup pasti memiliki persoalan, tanpa memandang profesi, jabatan, maupun kondisi sosialnya.

"Ustad Das’ad Latief menyampaikan bahwa setiap orang pasti memiliki masalah. Tidak ada manusia yang hidup tanpa ujian. Sebagai anggota Polri, sebagai orang tua, sebagai guru mengaji, bahkan sebagai pemimpin sekalipun pasti memiliki tantangan masing-masing. Yang membedakan adalah bagaimana cara kita menyikapi dan mencari solusi atas persoalan tersebut," ujar Iptu Totok Haryanto usai mengikuti kajian.

Dalam ceramahnya, Ustad Das’ad Latief juga mengulas perjalanan hijrah Rasulullah SAW ke Yatsrib yang kemudian dikenal sebagai Madinah. Ketika tiba di kota tersebut, hal pertama yang dibangun Rasulullah bukanlah pusat perdagangan maupun pusat pemerintahan, melainkan masjid sebagai pusat peradaban umat.

Bagi Iptu Totok, pesan tersebut mengandung makna mendalam bahwa pembangunan masyarakat yang kuat harus diawali dengan penguatan nilai-nilai spiritual dan kebersamaan.

"Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, yang pertama kali dibangun adalah masjid. Ini menunjukkan bahwa pondasi kehidupan bermasyarakat dimulai dari keimanan, persaudaraan, dan kebersamaan. Jika masjid hidup, maka insyaallah lingkungan juga akan lebih damai, harmonis, dan kondusif," jelasnya.

Pesan lain yang dinilai sangat relevan dengan kondisi kehidupan saat ini adalah pentingnya menjadikan kesabaran dan sholat sebagai solusi dalam menghadapi berbagai persoalan.

Menurut Ustad Totok, di tengah derasnya arus informasi, dinamika sosial, hingga berbagai tantangan kehidupan, masyarakat memerlukan ketenangan batin agar tidak mudah terpancing emosi maupun tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Baca juga: Polresta Malang Kota Tangkap Dua Pelaku Curas, Ancam Mahasiswa dengan Pisau dan Celurit

"Salah satu pesan yang sangat kuat adalah bagaimana Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menjadikan sabar dan sholat sebagai solusi. Khususnya sholat berjamaah yang tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga memperkuat silaturahmi, persatuan, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat," katanya.

Tak hanya itu, Ustad Das’ad Latief juga menyoroti budaya kritik dalam kehidupan sosial. Menurutnya, kritik merupakan hal yang wajar, namun harus disertai dengan solusi dan niat memperbaiki keadaan.

Pesan tersebut diibaratkan seperti dalam pelaksanaan sholat berjamaah. Ketika imam melakukan kekeliruan, makmum tidak membiarkannya begitu saja, tetapi mengingatkan dengan mengucapkan "Subhanallah" agar pelaksanaan ibadah kembali pada jalur yang benar.

Iptu Totok menilai filosofi tersebut sangat relevan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam membangun Kota Malang yang aman dan harmonis.

"Kita boleh mengkritik, boleh memberikan masukan, tetapi harus disertai solusi. Ustad Das’ad memberikan contoh yang sangat sederhana namun mendalam. Saat imam lupa dalam sholat, makmum mengingatkan dengan membaca Subhanallah.”

Baca juga: Berangkat Halalbihalal, Guru Agama di Surabaya Tewas Terlindas Mobil

“Artinya, kritik harus bertujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan. Jika budaya ini diterapkan dalam kehidupan sosial, maka akan lahir kolaborasi, sinergi, dan persatuan yang kuat di tengah masyarakat," Pungkasnya.

Sebagai anggota Polri yang juga aktif dalam pembinaan keagamaan masyarakat, Iptu Totok memandang kajian tersebut memiliki nilai strategis dalam mendukung upaya preventif dan preemtif menjaga kondusivitas wilayah.

Menurutnya, penguatan nilai-nilai agama, akhlak, dan kebersamaan merupakan bagian penting dalam mencegah berbagai potensi gangguan Kamtibmas.
Ia berharap pesan-pesan yang disampaikan Ustad Das’ad Latief dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh lapisan masyarakat.

Menutup refleksi hasil kajian, kemudian diakhiri dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk keselamatan, keamanan, kemakmuran, dan keberkahan bagi Kota Malang beserta seluruh warganya.

Harapan tersebut menjadi ikhtiar bersama agar Kota Malang senantiasa menjadi daerah yang aman, damai, religius, dan kondusif dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa mendatang.

Editor : Redaksi



Berita Terkait