Jawa Tengah

Bentuk Kemiskinan di Daerah Kaya Kilang Minyak Blora, Ibu Akhiri Diri Dari Memilkul Berat Beban Pendidikan

Bentuk Kemiskinan di Daerah Kaya Kilang Minyak Blora, Ibu Akhiri Diri Dari Memilkul Berat Beban Pendidikan © mili.id

Petugas Inafis melakukan identifikasi lokasi kejadian di Blora, Jawa Tebgah, Selasa (23/6/2026). (Humas Polres Blora)

Mili.id, BLORA - Diduga tak sanggup pikul biaya anak masuk pesantren, seorang ibu di Blora memilih mengakhiri diri memikul beban hidup.

Padahal Kabupaten Blora menjadi darah kaya akan tambang minyak bumi baik swasta maupun milik BUMN Pertamina.

Baca juga: Khofifah Sebut Pesantren Benteng Moral Bangsa, Genggong Jadi Inspirasi Generasi Santri

Diketahui ibu kelahiran 1985 itu berinisial M (41), warga Blora, Jawa Tengah. Ia  memilih mmengakhiri perjalanan hidup,  Selasa, (23/6/2026) pagi saat suami jemput buah hatinya di rumah mertua.

Menurut petugas, pemicu M mengambil langkah tersebut lataran beban pikiran berat akibat terbentur biaya tuk wujudkan impian sang buah hati

Padahal, niat hati mulia M bersama suami berencana mengutus sang buah hati tuk menimba ilmu di pondok pesantren.

"Awalnya pasitri (M dan R) ini pulang dari rumah mertua. Tapi saat snag suami jemput anaknya tetiba terkejut melihat sang istri sudah tak bisa diselamatkan lagi," papar Kasihumas Polres Blora AKP Midiyono.

Secara rinci, pada pukul 05.00 WIB pagi, M pulang dari meruta bersama R sang suami. Sesampainya M meminta R untuk menjemput sang buah hari yang berumur 12 tahun tersebut.

Tak plak, usai R dan buah hati sampai di rumah terkejut dengan kondisi sang istri yang mengakhiri perjalanan hidup.

Baca juga: Sekolah Rakyat Gunakan Data DTSEN, Rekrut Siswa Tanpa Pendaftaran Umum

Seketika itu juga, jerit tangis histeris seorang suami kehilangan belahan jiwa, berpadu dengan tangisan pilu anak berusia 12 tahun menyaksikan tubuh ibunya yang tak dapat diselamatkan itu.

Suara ratapan yang menyayat hati itu pun mengundang tetangga, Lamini (61), yang kemudian melaporkan tragedi tersebut ke Polsek Kradenan.

AKP Midiyono, mengonfirmasi berdasarkan hasil olah TKP dan pemeriksaan medis, tidak ditemukan tanda kekerasan. 

Pihak kepolisian pun mengungkapkan, sebelum peristiwa ini terjadi, korban dan suaminya sempat berdiskusi panjang mengenai rencana dan biaya sekolah anak mereka yang sangat ingin masuk ke pondok pesantren.

Baca juga: Istana Kaji Kemungkinan Dana APBN untuk Bangun Pesantren

"Dugaan sementara, korban mengalami kesulitan ekonomi terkait biaya anaknya yang ingin masuk pondok pesantren. Hal itu diduga memicu beban pikiran mendalam hingga korban melakukan tindakan nekat tersebut," urai AKP Midiyono.

 

"Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis di lokasi kejadian, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan pada tubuh korban. Peristiwa ini murni bunuh diri," ujar AKP Midiyono saat dikonfirmasi, Selasa (23/6/2026).

AKP Midiyono menjelaskan, peristiwa bermula sekira pukul 04.30 WIB saat korban hendak pulang dengan berjalan kaki dari rumah mertuanya di wilayah Kecamatan Kedungtuban. Namun, sang suami melarangnya berjalan kaki dan memilih untuk mengantarkannya menggunakan sepeda motor.(*****)

Editor : M Priyo Prabowo



Berita Terkait